Menuju Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama

Oase Keteladanan Gus Mus: Refleksi "Kiai Paripurna" dan Kesunyian Kekuasaan

author Redaksi

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Gus Mus, net
Gus Mus, net

Oase Keteladanan Gus Mus: Refleksi "Kiai Paripurna" dan Kesunyian Kekuasaan

Oleh: HM. Zahrul Azhar As'ad M.Kes (Gus Han)*

KlikJombang - Di tengah panggung publik yang kerap bising oleh perebutan eksistensi, otoritas, dan jabatan, sosok KH. Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus hadir bagaikan oase yang menyejukkan. Kerinduan terhadap beliau bukan sekadar rindu pada figur seorang ulama besar, melainkan kerinduan kolektif akan keteladanan moral yang luhur.

Puncak dari keteladanan itu terekam abadi dalam ingatan sejarah Nahdlatul Ulama, yakni ketika beliau dengan penuh keikhlasan menolak jabatan Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sikap tersebut menandai sebuah momen langka penolakan terhadap posisi spiritual tertinggi dalam organisasi Islam terbesar di dunia.

Sikap Gus Mus tersebut bukan sekadar keputusan personal, melainkan sebuah maklumat kultural tentang makna sejati dari sebuah integritas. Jabatan Rais Aam, yang bagi sebagian orang merupakan puncak pencapaian dan kehormatan, di mata Gus Mus justru dipandang sebagai amanah maha berat yang harus dihindari jika masih ada sosok lain yang mampu mengembannya.

Penolakan ini menjadi tamparan lembut namun menghunjam bagi kultur modern yang haus akan kekuasaan. Beliau mengajarkan bahwa kemuliaan seorang manusia tidak terletak pada tinggi rendahnya kursi yang diduduki, melainkan pada kemurnian niat dan pengabdian tanpa pamrih.

Di sinilah karakter Gus Mus sebagai seorang kiai kaffah—ulama yang paripurna—memancar dengan sangat terang. Menjadi kiai kaffah berarti mengintegrasikan seluruh dimensi kehidupan ke dalam nilai-nilai profetik.

Gus Mus tidak hanya menguasai khazanah keilmuan Islam klasik secara mendalam (tafaqquh fiddin), tetapi juga mampu membumikannya dalam laku hidup sehari-hari. Kedalaman ilmu beliau tidak melahirkan keangkuhan dogmatis, melainkan menjelma menjadi sikap santun, toleran, dan penuh kasih sayang kepada sesama.

Beliau mendampingi umat tidak dengan khotbah yang menghakimi, melainkan dengan keteladanan yang merangkul. Dimensi kekaffahan ini kian diperkaya oleh jiwa seniman dan budayawan yang melekat pada dirinya, di mana seni menjadi instrumen dakwah yang lentur untuk memanusiakan manusia.

Namun, di balik kerinduan yang membuncah terhadap sosok beliau, terselip sebuah tanya yang menggelisahkan sekaligus menggugat sanubari kita. Masih adakah harapan bagi kita untuk menyaksikan kembali sosok kiai kaffah seperti Gus Mus di masa depan?

Ataukah keteladanan luhur semacam itu kini telah terkubur oleh syahwat dan godaan kekuasaan yang kian profan? Hari-hari ini, kita menyaksikan realitas yang mencemaskan, di mana batas antara menuntun umat dan memburu pangkat kian kabur.

Ketika panggung suksesi digelar, publik sering kali disuguhi drama teatrikal yang usang. Kita kerap mendengar alasan klasik dari mereka yang ingin tampak tidak berambisi, berdalih tunduk "atas desakan muktamirin" atau jemaah.

Topeng ketundukan pada aspirasi ini sering kali digunakan untuk membungkus syahwat politik yang membara agar terlihat bak kesalehan yang dipaksakan. Yang lebih ironis, sang aktor sering kali mendadak amnesia, seolah-olah lupa bahwa dirinya sendiri bisa jadi adalah episentrum dari badai konflik dan faksionalisme yang sedang melanda organisasi.

Berbeda diametral dengan Gus Mus yang memilih mundur demi meredam gejolak, para pemburu takhta ini justru menggunakan desakan massa rancangan mereka sendiri untuk membenarkan pemuasan ambisi pribadi. Pragmatisme politik semacam inilah yang membawa ormas terbesar di dunia tertatih-tatih.

Kharisma yang semestinya menjadi kompas moral bangsa, kini rawan terbeli dan luluh demi syahwat politik praktis. Kekhawatiran terbesar kita bukanlah kelangkaan orang-orang berilmu, melainkan fenomena ketika institusi keagamaan atau tokoh-tokohnya justru rela meluruhkan independensinya.

Ketika ulama yang seharusnya menjadi pengontrol jalannya kekuasaan justru berbalik menjadi stempel pembenarnya, maka di sanalah umat kehilangan pegangan spiritualnya. Meski mendung pragmatisme tampak pekat, harapan tidak boleh sepenuhnya padam.

Di berbagai sudut nusantara, jauh dari jangkauan kamera media dan gemerlap panggung ibu kota, masih ada kiai-kiai sepuh dan para pemikir muda yang memilih jalan sunyi. Mereka konsisten mengajar santri, menjaga moral umat, dan menolak mendekat ke lingkaran kekuasaan demi menjaga kesucian jubah keulamaan mereka.

Sosok-sosok inilah embrio harapan yang harus terus dijaga, agar watak kiai kaffah tidak menjadi mitos masa lalu yang terkubur zaman. Merindukan Gus Mus di masa kini adalah sebuah refleksi mendalam agar kita kembali menengok kompas moral yang sejati.

Di tengah dunia yang serba transaksional, penolakan beliau terhadap jabatan Rais Aam dan konsistensinya menjadi "mata air" bagi umat adalah teladan yang amat langka. Kita merindukan kiai kaffah seperti Gus Mus bukan untuk mengkultuskannya, melainkan untuk menjadikannya cermin dan pengingat.

Bahwa di dunia yang sementara ini, keikhlasan, kerendahan hati, dan keberanian untuk tetap independen dari jerat kekuasaan adalah mahkota tertinggi yang sesungguhnya.

*Penulis adalah Sekjend Gernas Ayo Mondok dan Wakil Rektor Unipdu Jombang.

Berita Terbaru

Polres Jombang Terus Kawal Ketahanan Pangan Melalui Pendampingan Petani

Polres Jombang Terus Kawal Ketahanan Pangan Melalui Pendampingan Petani

Rabu, 19 Agu 2026 13:13 WIB

Rabu, 19 Agu 2026 13:13 WIB

Upaya mendukung ketahanan pangan nasional terus diperkuat oleh jajaran kepolisian melalui aksi nyata pendampingan langsung di sektor pertanian.…

Menembus 1.400 Kilometer Demi Muktamar: Khidmah Tanpa Batas Ndan Arif Mengayuh Sepeda dari Musi Rawas ke Tambakberas

Menembus 1.400 Kilometer Demi Muktamar: Khidmah Tanpa Batas Ndan Arif Mengayuh Sepeda dari Musi Rawas ke Tambakberas

Rabu, 19 Agu 2026 12:59 WIB

Rabu, 19 Agu 2026 12:59 WIB

Kisah pengabdian tanpa batas kembali terukir dari seorang kader senior Barisan Ansor Serbaguna (Banser) asal Sumatra Selatan.…

Yenny Wahid Minta Muktamar Ke-35 NU di Jombang Jadi Ajang Rekonsiliasi dan Akhiri Pertikaian Faksi

Yenny Wahid Minta Muktamar Ke-35 NU di Jombang Jadi Ajang Rekonsiliasi dan Akhiri Pertikaian Faksi

Rabu, 19 Agu 2026 09:50 WIB

Rabu, 19 Agu 2026 09:50 WIB

Gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang…

PWNU dan PCNU se-DIY Tegaskan Tolak Politik Uang di Muktamar Ke-35 NU Jombang

PWNU dan PCNU se-DIY Tegaskan Tolak Politik Uang di Muktamar Ke-35 NU Jombang

Rabu, 19 Agu 2026 09:29 WIB

Rabu, 19 Agu 2026 09:29 WIB

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama seluruh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-DIY…

PWNU Jakarta Ajak Cegah Politik Transaksional di Muktamar Ke-35 NU, Dorong Optimalisasi Sistem AHWA

PWNU Jakarta Ajak Cegah Politik Transaksional di Muktamar Ke-35 NU, Dorong Optimalisasi Sistem AHWA

Rabu, 19 Agu 2026 09:21 WIB

Rabu, 19 Agu 2026 09:21 WIB

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta, KH Samsul Ma’arif…

Muhammadiyah Terjunkan Kokam hingga 10.000 Porsi Bakso Gratis Siap Sukseskan Muktamar ke-35 NU di Jombang

Muhammadiyah Terjunkan Kokam hingga 10.000 Porsi Bakso Gratis Siap Sukseskan Muktamar ke-35 NU di Jombang

Selasa, 18 Agu 2026 22:18 WIB

Selasa, 18 Agu 2026 22:18 WIB

Gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dipusatkan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Kabupaten Jombang…