Presiden Prabowo Lantik Gus Yahya Jadi Anggota Wantimpres, Ini Profil dan Rekam Jejak Mantan Ketum PBNU
JAKARTA, KlikJOMBANG — Presiden Prabowo Subianto resmi melantik KH Yahya Cholil Staquf sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Tokoh keagamaan yang akrab disapa Gus Yahya tersebut kembali dipercaya masuk dalam lingkaran istana untuk memberikan nasihat strategis kepada kepala negara.
Langkah politik dan pengabdian Gus Yahya di ranah pemerintahan ini menjadi sorotan publik. Pasalnya, sosok yang lahir dan besar dari tradisi pesantren tersebut memiliki rekam jejak panjang, baik di level organisasi sosial keagamaan maupun kancah diplomasi internasional.
Sebelum ditunjuk menjadi anggota Wantimpres di era pemerintahan Presiden Prabowo, Gus Yahya dikenal luas sebagai mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021–2026. Ia mengemban amanah pimpinan tertinggi Ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut setelah terpilih dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung.
Lahir di Rembang, Jawa Tengah, pada 16 Februari 1966, Gus Yahya tumbuh dalam iklim keluarga ulama yang sangat kental. Ia merupakan putra pertama dari KH Muhammad Cholil Bisri, salah satu tokoh pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga ulama ternama asal Rembang.
Tradisi keilmuan dan keagamaan di lingkaran keluarga Gus Yahya tidak berhenti sampai di situ. Ia merupakan kakak kandung dari Yaqut Cholil Qoumas, mantan Menteri Agama Republik Indonesia, serta keponakan dari ulama sekaligus budayawan terkemuka tanah air, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus.
Pendidikan dasar keagamaan Gus Yahya ditempuh di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, yang didirikan oleh kakeknya sendiri, KH Bisri Mustofa. Menginjak usia remaja dan dewasa, ia menimba ilmu di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, di bawah bimbingan langsung KH Ali Ma'shum.
Selain mengenyam pendidikan pesantren tradisional, Gus Yahya juga menempuh pendidikan tinggi formal di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Untuk memperdalam pemahaman keilmuan Islam, ia sempat bermukim dan menimba ilmu secara mendalam di Kota Suci Mekkah.
Karier politik dan kelembagaan Gus Yahya di ranah pemerintahan bermula saat masa reformasi. Nama Gus Yahya mulai dikenal luas oleh publik nasional ketika Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, menunjuknya sebagai salah satu Juru Bicara Kepresidenan pada tahun 1999.
Peran sebagai juru bicara di era transisi demokrasi tersebut melatih kemampuan komunikasi politik Gus Yahya secara signifikan. Tugas mengomunikasikan kebijakan strategis istana kepada publik di era Gus Dur menjadi pondasi penting dalam perjalanan kepemimpinannya di masa-masa selanjutnya.
Kiprahnya di PBNU terus menanjak seiring berjalannya waktu. Sebelum menduduki kursi puncak, ia dipercaya menjabat sebagai Katib Aam PBNU untuk masa khidmat 2015–2021, sebuah posisi strategis yang mengurusi jajaran syuriyah atau kepemimpinan tertinggi ulama di PBNU.
Puncak kepemimpinannya di organisasi Nahdlatul Ulama terjadi pada Muktamar ke-34 NU yang digelar di Lampung, 24 Desember 2021. Gus Yahya berhasil terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2021–2026 setelah meraih dukungan mayoritas sebanyak 337 suara dari total 548 suara yang masuk.
Selama memimpin PBNU, Gus Yahya giat membawa gagasan pembaharuan yang berfokus pada penguatan peran NU di tingkat global. Ia secara konsisten mengusung narasi diplomasi kemanusiaan, dialog antaragama, dan kontribusi ormas keagamaan dalam menjaga perdamaian dunia.
Salah satu gagasan besar yang giat ia dorong di panggung global adalah konsep Humanitarian Islam atau Islam untuk Kemanusiaan. Melalui gagasan ini, ia mengajak para pemimpin agama dunia untuk menjadikan nilai keagamaan sebagai solusi atas perpecahan dan konflik global.
Jejak diplomasi keagamaan internasional Gus Yahya makin menguat saat ia menginisiasi penyelenggaran Religion Forum 20 (R20) pada tahun 2022. Forum keagamaan tingkat dunia tersebut sukses digelar sebagai bagian dari rangkaian resmi Presidensi G20 Indonesia.
Inisiatif R20 berhasil mendatangkan puluhan pemuka agama terkemuka dari berbagai belahan dunia ke Indonesia. Keberhasilan agenda tersebut melambungkan nama Gus Yahya tidak hanya sebagai tokoh NU, tetapi juga sebagai salah satu penggerak dialog lintas agama di tingkat global.
Penunjukan Gus Yahya sebagai anggota Wantimpres di era Presiden Prabowo Subianto bukanlah pengalaman pertamanya di lembaga penasihat presiden tersebut. Sebelumnya, ia pernah dilantik menjadi anggota Wantimpres oleh Presiden Joko Widodo pada 31 Mei 2018.
Pengalaman menduduki jabatan serupa di periode pemerintahan yang berbeda mempertegas kapasitas dan rekam jejak Gus Yahya di mata para pemimpin negara. Keahliannya dalam membaca peta geopolitik dan isu keagamaan dianggap memberikan nilai tambah tersendiri bagi masukan strategis Istana.
Editor : Redaksi