Gus Han Minta Kiai AHWA Pilih Pemimpin PBNU Bebas Intervensi di Muktamar ke-35 NU
Voting Putuskan Perubahan Mekanisme Pemilihan Ketua Umum, Peluang Seluruh Kandidat Dinilai Masih Terbuka
Tambakberas, KlikJOMBANG — Wakil Rektor Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, H.M. Zahrul Azhar As'ad alias Gus Hans, menyampaikan harapannya terkait proses pemilihan pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Tokoh muda NU tersebut berharap para kiai yang tergabung dalam Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dapat menentukan pilihan secara independen tanpa intervensi pihak mana pun dalam forum Muktamar ke-35 NU.
Harapan ini disampaikan seiring langkah Muktamar ke-35 NU yang resmi menyepakati perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU melalui skema pemungutan suara atau voting.
Dalam proses pemungutan suara tersebut, sebanyak 401 dari total 552 muktamirin memilih opsi perubahan mekanisme pemilihan kepemimpinan organisasi.
Sementara itu, sebanyak 150 suara muktamirin menghendaki mekanisme lama tetap dipertahankan, dan satu suara sisanya dinyatakan abstain atau tidak sah.
Hasil akhir penghitungan menunjukkan opsi perubahan berhasil mendominasi dengan meraih sekitar 73 persen suara, sedangkan opsi mempertahankan mekanisme lama mengantongi 27 persen suara.
Gus Han menegaskan bahwa perubahan mekanisme yang telah disepakati tersebut harus tetap mengedepankan prinsip independensi para kiai yang bertugas di forum AHWA.
Ia menilai para kiai sepuh harus menggunakan pertimbangan nurani yang jernih dengan melihat rekam jejak serta dinamika organisasi yang berkembang belakangan ini.
"Saya berharap AHWA benar-benar bisa memilih tanpa ada intervensi dan menggunakan batin nurani yang dimiliki," ujar Gus Han dikutip Klikjombang.com, Minggu (30/8/2026).
Menurut Gus Han, para kiai di dalam AHWA dituntut mampu melihat secara objektif sosok figur yang berpotensi menjadi solusi maupun sumber persoalan organisasi.
Keputusan yang diambil oleh AHWA diharapkan mampu menyudahi ketegangan serta tidak lagi dibayangi oleh sisa-sisa konflik yang sempat terjadi sebelumnya.
Gus Han menilai seluruh figur kandidat calon ketua umum saat ini masih memiliki peluang yang sama besar untuk terpilih menduduki kursi kepemimpinan.
Belum ada satu pun sosok yang bisa mengeklaim diri sebagai calon terkuat karena proses komunikasi politik tingkat tinggi bersama para kiai AHWA masih terus berjalan.
Gus Han juga memberikan catatan kritis bahwa perubahan mekanisme pemilihan tidak secara otomatis menghilangkan potensi politik uang maupun intimidasi.
Ia mengingatkan bahwa dinamika sistem baru bisa saja merupakan bagian dari hasil pengondisian politis oleh pihak-pihak yang merasa diuntungkan oleh skema tersebut.
"Saya tidak berani mengatakan bahwa ini adalah bagian dari manipulasi, tapi lebih tepatnya adalah hasil dari sebuah pengondisian," pungkas Gus Han.
Editor : Redaksi