Soal Penataan Pengurus PBNU, Gus Lilur: Mesti Inklusif dan Mencerminkan Wajah Indonesia
JAKARTA, KlikJOMBANG — Dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendadak menghangat pasca-Rapat Formatur Pertama penyusunan kepengurusan baru. Sejumlah pihak yang merasa terpental dari bursa pimpinan disinyalir menyebarkan narasi miring terkait potensi kembalinya pengaruh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di tubuh PBNU.
Menanggapi hal tersebut, tokoh warga NU sekaligus Kyai Kampung, HRM. Khalilur R Ab. S yang akrab disapa Gus Lilur, memberikan pandangan dan sikap atas kebijakan Ketua Umum PBNU terpilih, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.
Gus Lilur menilai, tuduhan PKB Come Back sengaja dihembuskan sebagai wujud kekecewaan pihak tertentu yang kemudian disikapi dengan fitnah. Narasi tersebut dinilainya tidak lebih dari sekadar gosip murahan yang tidak berbasis fakta objektif.
Menurut Gus Lilur, langkah Gus Kikin dalam menyusun struktur kepengurusan PBNU didasarkan pada dua pijakan utama yang profesional dan egaliter, yakni kapabilitas yang mumpuni serta asas keterwakilan wilayah secara nasional.
Pertimbangan Profesionalisme dan Kapabilitas Figur
Dalam forum rapat formatur tersebut, Gus Kikin secara resmi menyodorkan nama Lukman Edy untuk mengisi posisi strategis sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjend) PBNU periode mendatang.
Pengusulan nama Lukman Edy dinilai sangat rasional karena rekam jejaknya yang matang. Mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) sekaligus mantan Sekjend PKB itu dipandang memiliki kapasitas manajerial yang kuat untuk mengelola administrasi organisasi sebesar PBNU.
Gus Lilur menegaskan, seluruh warga Nahdliyin tahu bahwa Lukman Edy merupakan operator lapangan yang bekerja efektif mengawal kemenangan Gus Kikin. Sangat wajar jika seorang Ketua Umum memilih sosok tim suksesnya sendiri demi terciptanya kenyamanan kerja organisasi.
Ia pun menyindir manuver Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang dikabarkan kecewa atas pengusulan nama tersebut. Reaksi kekecewaan itulah yang diduga menjadi pemantik munculnya "api dan asap fitnah" terkait isu kembalinya dominasi partai politik tertentu.
PBNU Harus Jadi Cermin Nusantara, Bukan Hanya Jawa Timur
Lebih jauh, Gus Lilur meyakini bahwa jika dilakukan survei di tingkat basis hari ini, mayoritas Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) memang menginginkan adanya figur baru dan tak lagi menghendaki sosok lama di posisi Sekjend.
Selain masalah figur, Gus Lilur juga menyoroti pentingnya pemerataan keterwakilan daerah di tubuh PBNU. Ia mengingatkan bahwa PBNU adalah wadah tingkat nasional dan bukan sekadar "PWNU Jawa Timur".
Fakta saat ini menunjukkan bahwa posisi Rais Aam PBNU maupun Ketua Umum PBNU telah diisi oleh tokoh-tokoh dari Jawa Timur. Jika posisi strategis lainnya kembali didominasi figur dari wilayah yang sama, maka asas representasi nasional dinilai mencederai keadilan wilayah.
Gus Lilur menegaskan bahwa jajaran PBNU harus mencerminkan "Wajah Indonesia" yang inklusif, dengan memberi ruang proporsional bagi kader-kader potensial dari luar Pulau Jawa.
Melihat kondisi tersebut, Gus Lilur beserta jamaah NU di tingkat akar rumput menyatakan dukungan penuh terhadap sikap tegas, profesional, dan egaliter yang ditunjukkan oleh Gus Kikin.
Mengakhiri keterangannya, Gus Lilur menyemangati Gus Kikin agar tidak gentar menghadapi tekanan politik dalam menyusun kepengurusan yang solid. "Terus maju Gus Kikin, semoga para muassis (pendiri NU) senantiasa membersamai panjenengan," pungkasnya.
Editor : Redaksi