Hadiri Peringatan Maulid Nabi di Pesantren Surabaya, Ning Lia Tekankan Pentingnya Adab Mahasiswa
Surabaya, KlikJOMBANG - Suasana religius dan penuh kekeluargaan menyelimuti Pondok Pesantren Mahasiswa Al Masykuriyah, Wonocolo, Surabaya, dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kegiatan keagamaan tersebut menjadi momentum penting bagi para mahasiswa dan santri untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia, turut hadir dan membaur bersama para mahasiswa.
Kehadiran senator asal Jawa Timur tersebut memberikan warna tersendiri dalam rangkaian perayaan peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW.
Tidak sekadar mengikuti seremoni, Ning Lia menyempatkan diri berdialog dan menyerap aspirasi para mahasiswa yang tinggal di lingkungan pesantren.
Dalam pandangannya, peringatan Maulid Nabi tidak boleh berhenti sebatas kegiatan rutin tahunan yang bersifat formalitas semata.
Lebih dari itu, peringatan ini menjadi ruang permenungan untuk mengingat kembali keteladanan Rasulullah dalam membangun karakter dan kepedulian sosial.
Ning Lia menegaskan bahwa integritas moral seperti kejujuran, kesabaran, serta penghormatan kepada sesama harus terus dirawat oleh generasi muda.
"Maulid Nabi adalah momentum bagi kita untuk kembali belajar tentang akhlak Rasulullah. Terlebih bagi generasi muda dan mahasiswa, ilmu yang tinggi harus berjalan beriringan dengan adab dan akhlak yang baik," ujar Ning Lia dikutip Klikjombang.com, Rabu (9/9/2026).
Ia menilai kehidupan di pesantren mahasiswa memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk fondasi karakter para calon pemimpin masa depan.
Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk mengejar prestasi akademik di bangku kuliah, tetapi juga dilatih hidup mandiri dan berdisiplin tinggi.
Di tengah derasnya arus informasi, Ning Lia mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini menjadi kian kompleks.
Oleh karena itu, penguatan nilai-nilai keagamaan dan etika menjadi benteng utama agar mahasiswa tidak kehilangan jati diri di era digital.
"Generasi sekarang sangat dekat dengan teknologi dan media sosial. Karena itu, keteladanan Rasulullah tetap sangat relevan dalam menjaga tutur kata dan menghormati sesama," tutur senator yang dikenal gemar mengenakan batik tersebut.
Ia juga mendorong para mahasiswa untuk aktif memperluas wawasan serta pengalaman sosial di luar kegiatan perkuliahan formal.
Bagi Ning Lia, keberadaan pesantren mahasiswa menjadi titik temu ideal antara tradisi keilmuan modern kampus dengan pendidikan karakter berbasis keagamaan.
Ia berharap para santri dan mahasiswa kelak dapat tumbuh menjadi pribadi yang berunggul secara intelektual sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Editor : Redaksi