GMNI

Literasi Jadi Fondasi Kader GMNI Membaca Perubahan Zaman

author Redaksi

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news

Literasi Jadi Fondasi Kader GMNI Membaca Perubahan Zaman

Surabaya, KlikJOMBANG — Dalam kehidupan organisasi dan gerakan mahasiswa, keberpihakan terhadap rakyat tidak cukup hanya dibangun melalui semangat perjuangan. Seorang kader dituntut memiliki kemampuan membaca zaman, memahami berbagai pemikiran, serta menganalisis dinamika sosial, ekonomi, dan politik yang terus berkembang.

Guna merespons tantangan tersebut, literasi dinilai menjadi salah satu fondasi utama yang harus dimiliki setiap kader. Pentingnya budaya membaca ini ditekankan dalam pelaksanaan Sekolah Kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Tokoh pemuda Tri Prakoso menyampaikan bahwa budaya membaca sangat krusial bagi kader agar mampu memahami berbagai fenomena secara lebih mendalam. Hal ini mencakup pemahaman komprehensif terhadap persoalan geoekonomi, geostrategi, dan geopolitik.

Tri menilai, rendahnya literasi berdampak langsung pada lemahnya kemampuan analisis seseorang. Tanpa kebiasaan membaca dan memahami gagasan dasar, seseorang akan kesulitan mencerna kebijakan maupun tindakan para pemimpin dunia.

"Literasi, dengan demikian, bukan sekadar kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan untuk membaca realitas," tegas Tri Prakoso dalam pemaparannya dikutip Klikjombang.com, Selasa (8/9/2026).

Ia menambahkan, kader tidak boleh hanya berhenti pada taraf mengetahui sebuah kebijakan telah dibuat. Lebih dari itu, kader wajib memahami latar belakang pemikiran, kepentingan, serta konteks sosial-politik yang melahirkannya.

Tri memberikan gambaran bahwa memahami pola pikir seseorang akan jauh lebih mudah jika mengenal bahan bacaan yang membentuknya. Oleh sebab itu, membaca buku diartikan bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan proses membangun ketajaman berpikir.

Dalam konteks kaderisasi GMNI, penguatan literasi dinilai makin krusial untuk menjaga arah organisasi. Kader yang berpihak pada rakyat harus mampu menerjemahkan idealismenya melalui pengetahuan dan basis analisis yang solid.

"Idealisme tanpa pengetahuan berisiko menjadi slogan, sementara pengetahuan tanpa keberpihakan dapat kehilangan arah perjuangan," lanjutnya.

Atas dasar itu, seorang kader dinilai membutuhkan dua hal mendasar secara seimbang, yakni ketajaman berpikir dan keteguhan berpihak.

Upaya membangun perspektif ini dilakukan dengan mempelajari pemikiran tokoh dunia, teori ekonomi, sejarah politik, hingga dinamika ekonomi global. Pemikiran tokoh seperti Adam Smith, misalnya, perlu dipelajari untuk memahami bagaimana sebuah gagasan memengaruhi sistem masyarakat.

Di tengah kompleksitas dunia saat ini, kader diajak untuk tidak hanya melihat persoalan yang tampak di permukaan. Perubahan ekonomi, keputusan politik, dan strategi negara saling memengaruhi serta berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

Di sinilah literasi menemukan perannya yang krusial sebagai alat perjuangan intelektual.

Proses kaderisasi diharapkan tidak sekadar melahirkan kader yang mahir berbicara di depan forum. GMNI mendorong lahirnya kader yang terbiasa berpikir sebelum berbicara, membaca sebelum menyimpulkan, serta menguji setiap pendapat.

Selain isu politik dan gerakan, Tri Prakoso juga menyoroti pentingnya ruang pembelajaran terkait investasi, saham, dan mekanisme ekonomi modern. Pengetahuan ini penting agar analisis kader tidak timpang dan mampu melihat realitas secara utuh.

Pada akhirnya, sekolah kader diposisikan sebagai ruang untuk membentuk cara berpikir dan kesadaran kritis. Kader yang baik adalah mereka yang menyadari bahwa pengetahuan harus terus dicari, diuji, dan diperbarui seiring dinamika zaman.

"Membaca adalah cara kader mengenali dunia, menganalisis adalah cara memahami dunia, dan keberpihakan adalah cara menentukan untuk apa pengetahuan itu digunakan," pungkas Tri.

Tag :

Berita Terbaru

Konferda GMNI Jatim di Nganjuk Ricuh dan Deadlock, Kepemimpinan DPD Vakum

Konferda GMNI Jatim di Nganjuk Ricuh dan Deadlock, Kepemimpinan DPD Vakum

Senin, 07 Sep 2026 22:25 WIB

Senin, 07 Sep 2026 22:25 WIB

Konferensi Daerah (Konferda) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur yang diselenggarakan di Nganjuk berakhir deadlock…

Peringati Hari Aksara Internasional, 120 Pelajar di Surabaya Ikuti Lomba Menulis Aksara Jawa

Peringati Hari Aksara Internasional, 120 Pelajar di Surabaya Ikuti Lomba Menulis Aksara Jawa

Senin, 07 Sep 2026 13:55 WIB

Senin, 07 Sep 2026 13:55 WIB

Semangat melestarikan budaya Nusantara kembali digaungkan di Kota Pahlawan…

Demi Muluskan Jagoan Elit, Ketua GMNI Jember Babak Belur Dianiaya Pakai Batu di Arena Konferda

Demi Muluskan Jagoan Elit, Ketua GMNI Jember Babak Belur Dianiaya Pakai Batu di Arena Konferda

Senin, 07 Sep 2026 05:42 WIB

Senin, 07 Sep 2026 05:42 WIB

Arena Konferensi Daerah (Konferda) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur yang digelar di Nganjuk berujung ricuh…

Mengupas Kiprah Gus Gudfan: Alumni Undar Jombang yang Kembali Dipercaya Jadi Bendum PBNU

Mengupas Kiprah Gus Gudfan: Alumni Undar Jombang yang Kembali Dipercaya Jadi Bendum PBNU

Minggu, 06 Sep 2026 13:35 WIB

Minggu, 06 Sep 2026 13:35 WIB

Nahdlatul Ulama kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat tata kelola organisasi yang akuntabel dan berkelanjutan.…

Muktamar ke-35 NU Usai, Posko EMILIA Inisiasi Senator Lia Istifhama Jadi Rumah Kreatif Jurnalis

Muktamar ke-35 NU Usai, Posko EMILIA Inisiasi Senator Lia Istifhama Jadi Rumah Kreatif Jurnalis

Minggu, 06 Sep 2026 05:57 WIB

Minggu, 06 Sep 2026 05:57 WIB

Perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, telah usai digelar sepekan lalu.…

Klaim PAN “Partai Anak Nahdliyin” Disentil Ansor Jatim: Jangan Jadikan NU Komoditas Politik

Klaim PAN “Partai Anak Nahdliyin” Disentil Ansor Jatim: Jangan Jadikan NU Komoditas Politik

Sabtu, 05 Sep 2026 14:46 WIB

Sabtu, 05 Sep 2026 14:46 WIB

Ansor Jawa Timur melayangkan sentilan keras terhadap klaim politik Partai Amanat Nasional (PAN) yang belakangan gencar memperkenalkan diri…