Mbah Wahab Dianugerahi Gelar 'Bapak ISHARI Nahdlatul Ulama'
Tambakberas, KlikJombang - Gelar kehormatan ini diberikan atas jasa besar ulama yang akrab disapa Mbah Wahab tersebut dalam merintis, memperjuangkan, dan mengintegrasikan seni hadrah ke dalam struktur organisasi Nahdlatul Ulama.
Prosesi penganugerahan berlangsung khidmat dalam rangkaian acara Istighosah dan Doa Bersama Sukses Muktamar ke-35 NU yang digelar di Gedung Serba Guna (GSG) Hasbullah Said, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Kamis malam (20/08).
Plakat penghargaan diserahkan langsung oleh pengurus PP ISHARI kepada putra Mbah Wahab, KH Hasib Wahab Chasbullah (Gus Hasib), yang hadir mewakili keluarga besar dzurriyah Mbah Wahab.
Gus Hasib menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas penghormatan yang diberikan kepada almarhum ayahnya.
Ia berharap penganugerahan gelar tersebut membawa keberkahan serta dorongan semangat baru bagi seluruh warga nahdliyin dalam melestarikan seni budaya Islam.
"Semoga penghargaan ini membawa berkah. ISHARI makin besar dan jaya," tutur Gus Hasib usai menerima penghargaan tersebut, dikutip Klikjombang.com, Sabtu (22/08).
Ribuan warga nahdliyin, santri, anggota ISHARI, dan masyarakat umum tampak memadati lokasi acara untuk mengikuti doa bersama.
Sejumlah tokoh penting PBNU turut hadir, di antaranya Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), serta anggota Steering Committee Muktamar ke-35 NU Prof. Muh. Nuh.
Jajaran pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang juga tampak membaur bersama jemaah, termasuk KH Abdurrozaq Sholeh (Gus Rozaq).
Pemberian gelar ini menjadi momen penting untuk mengingat kembali sejarah panjang perkembangan seni hadrah di tubuh Nahdlatul Ulama.
Mbah Wahab sejak awal mengamati bahwa tradisi majelis selawat Terbang Abdurrahim yang dirintis Kiai Abdurrohim bin Abdul Hadi dari Pasuruan memiliki potensi besar sebagai media dakwah Islam Nusantara.
Tepat pada 23 Januari 1959, Mbah Wahab mengusulkan agar jam’iyyah hadrah tersebut dimasukkan secara resmi ke dalam naungan NU hingga akhirnya melahirkan ISHARI.
Langkah strategis tersebut diambil untuk menjadikan seni budaya Islam sebagai sarana dakwah yang inklusif sekaligus memperkuat rasa cinta umat kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam proses pembentukan awal ISHARI, Mbah Wahab turut merangkul ulama ternama seperti KH Bisri Syansuri, KH Syaifuddin Zuhri, KH Ahmad Syaiku, dan KH Muhammad bin Abdurrokhim.
Perjuangan tersebut berlanjut pada Agustus 1961 saat Mbah Wahab berkirim surat kepada KH Muhammad bin Abdurrokhim untuk merintis pengurus pusat ISHARI di Surabaya.
Hasil musyawarah ulama se-Jawa Timur pada September 1961 kemudian menetapkan Mbah Wahab sebagai pembina dan pelindung, serta KH Muhammad bin Abdurrokhim sebagai ketua umum.
Peran Mbah Wahab semakin menguat ketika ia bersurat ke Panitia Muktamar ke-23 NU di Surakarta agar kesenian hadrah diberi ruang tampil resmi, hingga akhirnya ISHARI tumbuh di bawah pembinaan Syuriyah NU dan resmi menjadi Badan Otonom (Banom) NU pada Muktamar ke-34 NU di Lampung tahun 2021.
Kini, seni ISHARI yang khas dengan perpaduan syair mahabbah, gerakan rodad, dan tepukan tangan ritmis terus berkembang pesat dari Pasuruan hingga ke berbagai pelosok Indonesia.
Editor : Redaksi