Kabar Duka dari Tambakberas: Bu Nyai Machfudhoh Wafat, Selamat Jalan Sang Pengayom Santri
JOMBANG, KlikJOMBANG — Kabar duka menyelimuti keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) dan dunia pesantren Tanah Air. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, Ibu Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid, putri dari pendiri sekaligus penggerak NU KH Abdul Wahab Hasbullah, wafat di Jakarta pada Minggu (4/10/2026) malam, sekira pukul 22.25 WIB.
Suasana duka mendalam seketika merayap di bumi Tambakberas, Jombang. Para santri, alumni, serta keluarga besar Pondok Pesantren Bahrul Ulum mendadak hening, merenungi kepergian sosok teladan yang sepanjang hidupnya dihibahkan penuh untuk khidmah kepada umat.
Bagi publik pesantren, Ibu Nyai Machfudhoh bukan sekadar ulama perempuan, melainkan sosok pengayom yang bertindak sebagai ibu bagi seluruh santri Bahrul Ulum. Almarhumah secara telaten mengasuh Ribath Al Lathifiyah 1 Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang.
Jejak langkah almarhumah terbentang luas di berbagai ruang pengabdian. Sepanjang hayatnya, ia terus bergerak aktif membina jaringan politik, pendidikan, hingga gerakan sosial keumatan.
Keramahan dan ketegasannya membuat Ibu Nyai Machfudhoh dikenal dekat dengan pelbagai kalangan. Mulai dari jajaran birokrat, politisi, pengusaha, pimpinan organisasi masyarakat, hingga Presiden RI Prabowo Subianto.
Bagi internal keluarga, beliau memiliki tempat tersendiri di hati sanubari. Pengasuh PP Al-Maliki 2 Bahrul Ulum Tambakberas, KH M. Syifa’ Malik (Gus Syifa), mengenang almarhumah sebagai karib masa muda ibundanya saat menimba ilmu di madrasah.
Gus Syifa menceritakan bahwa sejak belia, almarhumah yang akrab disapa Bude Fudhoh itu adalah teman seperjuangan ibundanya, Bu Nyai Churun Ain, sewaktu menempuh pendidikan di Solo.
"Saat gadis, beliau adalah teman sekolah dan teman mondok di Mualimmat Pesantren As-Salam Solo sekitar tahun 1950-an," tutur putra dari Kiai Malik dan Bu Nyai Churun Ain tersebut.
Sekretaris Yayasan Perguruan Tinggi Bahrul Ulum Tambakberas ini menambahkan bahwa almarhumah konsisten menjaga sikap rendah hati dan selalu mendukung generasi muda untuk terus maju.
Bahkan ketika usia menyentuh senja, ritme perjuangan Ibu Nyai Machfudhoh tidak pernah surut. Beliau tetap aktif membagi waktu dan mengurus berbagai agenda keorganisasian tanpa kenal lelah.
"Usia sepuh tidak menyurutkan langkah beliau untuk terus berkhidmat. Sering kali beliau bernavigasi Jakarta-Jombang semata-mata didorong spirit perjuangan," ungkap Gus Syifa.
Dedikasi spiritual almarhumah pun begitu membekas. Dalam tiga tahun terakhir, beliau konsisten membersamai alumni dan santri dalam kegiatan rutin salat sunah 1.000 rakaat serta pengijazahan selawat.
Menurut Gus Syifa, keteladanan dan daya juang tanpa batas itu mengalir kuat dari darah sang ayahanda, pahlawan nasional KH Abdul Wahab Hasbullah, yang dikenal pantang menyerah dan tak kenal kata uzur dalam berjuang.
"Sugeng tindak Bude, jenengan tiyang ingkang sae. Husnul khatimah, Al-Fatihah," doa tulus Gus Syifa saat menyaksikan langsung jejak kebaikan almarhumah sepanjang hayatnya.
Kepastian berita duka ini juga dikonfirmasi oleh Ketua Umum Yayasan Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas, KH Abdurrozaq Sholeh. Beliau membenarkan wafatnya almarhumah pada Minggu malam di Jakarta.
Jenazah almarhumah dijadwalkan tiba di rumah duka Jombang untuk penghormatan terakhir sebelum dilepas menuju peristirahatan abadi.
Prosesi pemakaman rencananya dilaksanakan di kompleks pemakaman keluarga KH Abdul Wahab Hasbullah di Tambakberas, Jombang, pada Senin (5/10/2026) sore pukul 15.30 WIB.
Editor : Redaksi