Pererat Silaturahmi Warga Nahdliyin, Sarung Mangga Berkhidmat di Muktamar Ke-35 NU
Tambakberas, KLIKJOMBANG — Kehadiran sarung bagi masyarakat Nahdliyin bukan lagi sekadar selembar kain pelindung tubuh, melainkan telah menjelma menjadi simbol identitas, tradisi, dan kebanggaan kultural yang mengakar kuat di lingkungan pesantren.
Melihat eratnya ikatan tersebut, produsen busana muslim nasional, Sarung Mangga, menegaskan komitmennya untuk selalu hadir mendampingi perjalanan spiritual dan keseharian warga NU dari generasi ke generasi.
Komitmen tersebut diwujudkan secara nyata melalui partisipasi serta bentuk khidmat Sarung Mangga dalam perhelatan akbar Muktamar Nahdlatul Ke-35 Ulama (NU).
Forum tertinggi warga Nahdliyin yang berlangsung penuh khidmat ini dipusatkan di kawasan bersejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur pada tanggal 27 sampai 31 Agustus 2026.
Manager Marketing Sarung Mangga, Wafi Basyarahil, menyampaikan bahwa keberadaan sarung memiliki kedudukan filosofis yang sangat istimewa dalam setiap denyut aktivitas santri maupun kiai.
"Sarung Mangga ingin selalu hadir di setiap momen penting masyarakat," ujar Wafi Basyarahil dalam keterangan tertulisnya kepada KlikJombang.com, Jumat (21/8/2026).
Wafi menjelaskan, kompleks pesantren merupakan ruang utama tempat budaya bersarung dihidupkan, dikenakan, serta dirawat nilai-nilai luhurnya hingga saat ini.
Bagi pihak manajemen, setiap helai kain yang diproduksi bukan sekadar produk fesyen biasa, melainkan medium penyimpan narasi kebersamaan dan pengabdian.
"Kami bangga bisa bercerita langsung dari pesantren. Bagi Sarung Mangga, setiap helai sarung menyimpan cerita tentang tradisi, kebersamaan, dan kebanggaan," tuturnya menambahkan.
Kehadiran brand legendaris yang mengusung tagline "Bangga Bercerita" dalam agenda Muktamar Ke-35 NU ini pun mendapat respons yang sangat positif dari para tokoh agama.
Sekretaris Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Khumaidi Abdillah, ST, mengapresiasi tinggi kontribusi dan partisipasi aktif yang ditunjukkan oleh Sarung Mangga.
Pria yang akrab disapa Gus Khumed ini menegaskan bahwa relasi antara sarung, pesantren, dan Nahdliyin merupakan satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan.
"Sarung sudah menjadi bagian dari identitas harian santri dan masyarakat Nahdliyin," tegas Gus Khumed yang juga mengemban amanah sebagai Sekretaris Panitia Lokal Muktamar NU ke-35.
Menurut Gus Khumed, langkah Sarung Mangga yang konsisten menjaga kedekatan dengan para kiai dan lingkungan pesantren merupakan jejak rekam yang sangat berharga.
Momen khidmat di forum Muktamar NU dinilai sebagai pijakan yang sangat tepat untuk memperkuat jejaring silaturahmi dengan basis massa Nahdliyin di seluruh pelosok negeri.
"Ini langkah yang sangat tepat untuk semakin mempererat silaturahmi dengan warga Nahdliyin," ucapnya penuh optimisme.
Gus Khumed pun berharap semangat khidmat serta kepedulian terhadap kebudayaan Islam Nusantara ini dapat terus dipertahankan secara berkelanjutan di masa-masa mendatang.
"Semoga Sarung Mangga terus berkembang, tetap dekat dengan pesantren, dan konsisten membawa semangat kebanggaan dalam budaya bersarung," pungkas Gus Khumed.
Editor : Redaksi