Dzurriyah Muassis Bedah Pemikiran Mbah Wahab di Jombang, Gus Syaifuddin: Sejarah Jadi Energi Masa Depan NU
KLIKJOMBANG — Gelaran Silaturahmi Nasional Dzurriyah Muassis NU dan Bedah Buku Mbah Wahab di Auditorium Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha), Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (15/8/2026) malam, menyedot perhatian publik dan kalangan nahdliyin.
Di balik khidmatnya forum tersebut, Ketua Panitia Gus Syaifuddin memainkan peran kunci. Ia tidak sekadar menyiapkan acara seremonial, tetapi menjadikan momentum itu sebagai ruang strategis mempertemukan sejarah, keluarga muassis, elite organisasi, hingga gagasan besar masa depan Nahdlatul Ulama.
Ratusan peserta memadati auditorium sejak awal acara. Suasana semakin berbobot saat Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) hadir dan mengulas sosok KH Abdul Wahab Hasbullah—pendiri NU yang dikenal memiliki kecermatan luar biasa dalam membaca peta geopolitik dunia.
Dalam sambutannya, Gus Syaifuddin mengajak seluruh komponen jam’iyah NU untuk berrefleksi dan kembali ke akar sejarah perjuangan para pendiri. Menurutnya, memahami NU tidak cukup hanya dengan mengingat nama tokohnya, melainkan harus mendalami cara berpikir, strategi, keberanian, serta visi peradaban para pendiri.
Agenda bedah buku karya H. Abdul Mun’im DZ setebal 262 halaman terbitan Unwaha Press (2024) itu menjadi pintu masuk utama untuk mengurai perjalanan intelektual dan kiprah politik Mbah Wahab.
Karya literatur tersebut terasa kian relevan saat Gus Yahya memaparkan keahlian Mbah Wahab dalam membaca dinamika geopolitik dunia Islam pascaruntuhnya Khilafah Utsmaniyah pada dekade 1920-an.
Gus Yahya mengungkapkan sebuah catatan sejarah menarik ketika Mbah Wahab mendapat undangan resmi menghadiri Muktamar Khilafah di Arab Saudi. Namun, keberangkatan ulama kharismatik tersebut mendadak batal dengan alasan klasik: "tertinggal kapal".
Di balik alasan sederhana tersebut, rupanya tersimpan kalkulasi dan pembacaan politik tingkat tinggi dari KH Abdul Wahab Hasbullah.
Gus Yahya menafsirkan pembatalan itu sebagai bentuk diplomasi yang amat halus. Mbah Wahab tidak menghendaki Arab Saudi dijadikan sebagai pusat atau basis khilafah baru menggantikan posisi kekuasaan Turki Utsmani.
Sikap strategis tersebut membuktikan bahwa Mbah Wahab tidak memandang pergeseran politik global secara hitam-putih. Ia jeli melihat arah zaman, mengkalkulasi konsekuensi geopolitik, sekaligus menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam Nusantara.
Dari titik inilah, gagasan mengenai rekam jejak pendirian NU menjadi semakin menarik untuk dibedah.
Lahirnya Nahdlatul Ulama dibuktikan bukan berasal dari ruang kosong atau kebetulan belaka.
NU hadir dari kegelisahan mendalam para ulama terhadap perubahan era, cengkeraman penjajahan, dinamika politik internasional, serta kebutuhan mendesak untuk membentengi tradisi keislaman. Para kiai memilih bergerak aktif membangun jam’iyah yang tangguh menghadapi peradaban tanpa kehilangan pijakan akar keilmuan.
Inisiatif Gus Syaifuddin mengemas forum di Unwaha ini menemukan momentum dan relevansi tertingginya.
Dengan merangkul dzurriyah muassis, jajaran PBNU, kalangan akademisi, serta membedah pemikiran Mbah Wahab, forum ini berhasil diposisikan sebagai jembatan emas penghubung masa lalu dan masa depan NU.
Langkah ini menjadi manifestasi nyata bahwa menghormati muassis bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan upaya menghidupkan kembali paradigma dan cara berpikir kritis para pendiri.
Warisan terbesar ulama muassis bukanlah sekadar nama besar yang terukir di lembar sejarah, melainkan keberanian generasi penerus dalam membaca arah zaman dan menjawab tantangan global.
Melalui forum di Tambakberas ini, pesan utamanya menjadi kian tegas: sejarah NU adalah energi konsolidasi gagasan untuk menjawab persoalan riil bangsa dan agama hari ini, sekaligus memicu tantangan bagi generasi nahdliyin masa kini untuk meneruskan peran strategis para muassis di kancah dunia.
Editor : Redaksi