Gus Han Dorong Pembentukan Kabinet Antaraxia PBNU Pasca-Muktamar
JAKARTA, KlikJOMBANG — Nahdlatul Ulama (NU), sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, selalu menjadi pusat perhatian publik setiap kali momentum pergantian kepengurusan tiba.
Harapan besar kini disematkan pada proses pembentukan struktur kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk periode mendatang.
Menanggapi dinamika tersebut, Sekretaris Jenderal Gernas Ayo Mondok, HM Zahrul Azhar As'ad atau yang akrab disapa Gus Han, menyampaikan pandangannya terkait masa depan kepemimpinan PBNU.
Di tengah dinamisnya konstelasi sosial dan politik nasional, Gus Han mendorong lahirnya kepengurusan PBNU yang ia sebut sebagai "Kabinet Antaraxia".
Ia menjelaskan bahwa Kabinet Antaraxia merupakan metafora untuk struktur kepengurusan PBNU yang visioner, berwawasan luas, serta mampu melampaui sekat-sekat kepentingan kelompok.
Selain itu, Wakil Rektor Unipdu Jombang ini berharap jajaran kepengurusan baru mampu membawa suasana sejuk tanpa konflik dan murni bergerak demi kemaslahatan umat.
Menurut Gus Han, langkah awal yang paling krusial untuk mewujudkan cita-cita tersebut dimulai dari kedewasaan seluruh elemen warga NU dalam menyikapi hasil muktamar.
Ia mengakui secara jujur bahwa tidak ada proses maupun hasil dari sebuah pesta demokrasi organisasi yang benar-benar sempurna.
"Dalam setiap dinamika muktamar, akan selalu ada ruang bagi perbedaan pendapat hingga potensi kekecewaan di antara para pihak," ujar Gus Han dalam keterangan tertulisnya kepada KlikJOMBANG.com, Rabu (2/9/2026).
Namun demikian, ia menegaskan pentingnya berlapang dada menerima hasil keputusan yang ada demi menjaga marwah dan martabat organisasi.
Gus Han mengingatkan bahwa menghidupkan kembali polemik atau memelihara konflik pasca-muktamar hanya akan menguras energi yang seharusnya dialokasikan untuk membesarkan organisasi.
Gagasan Kabinet Antaraxia ini, lanjut dia, hanya bisa bekerja secara optimal apabila didukung penuh oleh stabilitas politik dan konsolidasi di internal PBNU.
Ketika semua elemen sepakat untuk menyudahi rivalitas dan kembali bersatu, PBNU dipastikan dapat langsung fokus menjalankan agenda-agenda mendesak di tingkat akar rumput (grassroot).
Gus Han menekankan bahwa NU saat ini sangat membutuhkan jajaran pengurus yang fokus membesarkan jam'iyah, bukan figur yang menjadikan organisasi sebagai batu loncatan demi ambisi jabatan publik.
Melalui kepengurusan yang bersih dari kepentingan politik praktis, program strategis seperti penguatan ekonomi warga, peningkatan mutu pendidikan pesantren, hingga dakwah digital yang moderat dapat dieksekusi secara maksimal.
Ia juga mengingatkan bahwa kesadaran kolektif ini harus menjadi komitmen bersama seluruh kader NU karena tantangan zaman yang dihadapi organisasi ke depan sangat besar.
"Menerima hasil muktamar dengan legawa dan mendukung penuh khidmah keumatan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan demi kelangsungan masa depan Nahdlatul Ulama," pungkas Gus Hans sembari menyampaikan ucapan selamat kepada Rais Aam dan Ketua Umum Tanfidziyah terpilih.
Editor : Redaksi