Buku 'Islam ala Prabowo' Dinilai Berpotensi Jadi Instrumen Perang Nirmiliter
JAKARTA, KlikJOMBANG — Buku bernada keagamaan yang mengusung nama Presiden Prabowo Subianto mendadak kembali menyita perhatian publik. Karya berjudul Islam ala Prabowo tersebut menjadi bahan perbincangan usai sejumlah pihak memberikan klarifikasi terkait keterlibatan mereka.
Kehadiran buku ini lantas memantik sorotan tajam dari kalangan pengamat intelijen dan geopolitik. Publik diimbau untuk tidak sekadar melihat dinamika tersebut dari permukaan atau perdebatan teks semata.
Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, mengingatkan bahwa persoalan buku ini tidak boleh dipandang secara dangkal. Menurutnya, aspek judul maupun isi buku menyimpan implikasi yang jauh lebih luas.
Amir menegaskan, dalam lanskap politik kekuasaan modern, setiap produk narasi yang membawa nama kepala negara harus diperiksa secara cermat. Terlebih lagi, ketika seorang pemimpin tengah berada di bawah tekanan geopolitik yang cukup kuat.
Ia menilai kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto saat ini sedang menghadapi tantangan yang kian kompleks. Salah satu ancaman terselubung yang patut diwaspadai adalah potensi terjadinya perang nirmiliter.
Dalam konteks geopolitik modern, perang tidak selamanya diidentikkan dengan pengerahan pasukan tentara maupun persenjataan berat di medan tempur. Pertempuran justru kerap berlangsung di ranah abstrak yang tak kasat mata.
Pertarungan tersebut dapat dimainkan melalui arus informasi, penggalangan opini publik, pembentukan persepsi, infiltrasi sosial-ekonomi, hingga diplomasi. Selain itu, perang psikologis juga menjadi instrumen utama dalam strategi nirmiliter.
Atas dasar itulah, Amir mewanti-wanti agar penggunaan nama kepala negara dalam publikasi yang mengaitkannya dengan identitas keagamaan dilakukan secara sangat hati-hati. Kecerobohan kecil dalam narasi bisa berdampak fatal pada stabilitas politik.
"Jangan sampai buku ini justru menjadi alat pihak lain untuk menjebak Prabowo atau menciptakan persepsi seolah-olah ada konsep tertentu yang secara resmi berasal dari Presiden," ujar Amir dikutip KlikJOMBANG.com, Rabu (9/9/2026).
Secara faktual, buku Islam ala Prabowo tersebut bukanlah karya yang ditulis langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Terdapat tim penulis khusus di balik penerbitan buku yang cukup tebal ini.
Berdasarkan data Katalog Gramedia, buku setebal 346 halaman tersebut disusun oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas. Karya ini diterbitkan oleh Atmosphere Publishing House dan pertama kali rilis pada April 2025.
Perjalanan buku ini berlanjut hingga resmi diluncurkan dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS 2025 di Jakarta pada 26 Agustus 2025. Proyek penulisan ini sendiri diinisiasi oleh Ketua MPR Ahmad Muzani bersama Ketua MUI KH Anwar Iskandar.
Kendati demikian, perkembangan terbaru justru memperlihatkan dinamika baru di lapangan. Sejumlah nama yang sempat dikait-kaitkan dengan proses penyusunan buku tersebut mulai menyampaikan klarifikasi resmi kepada publik.
Dari sisi substansi, pihak penerbit sebenarnya telah menegaskan bahwa buku ini tidak pernah dimaksudkan untuk membentuk mazhab atau aliran Islam baru. Namun, Amir mengimbau agar Presiden Prabowo tidak lantas terkecoh.
Menurut Amir, perang nirmiliter bekerja dengan pola yang jauh lebih halus dan samar dibandingkan perang konvensional. Salah satu instrumen favorit dalam strategi ini adalah memanipulasi persepsi publik terhadap figur seorang pemimpin.
Seorang kepala negara dapat dilemahkan bukan melalui serangan fisik secara langsung, melainkan dengan cara menciptakan kontroversi berkepanjangan di sekelilingnya. Narasi sengaja diproduksi agar masyarakat menilai sang pemimpin sedang membangun identitas keagamaan tertentu.
Jika narasi ini liar tanpa kendali, dampaknya akan mengikis hubungan Presiden dengan ormas Islam legendaris seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Oleh karena itu, Amir menekankan pentingnya pemerintah menjaga sinergi dengan kedua organisasi besar tersebut secara bijaksana.
Editor : Redaksi