Musim Panen Berkah, Harga Gabah di Jombang Meroket Mendekati Level Psikologis
JOMBANG, KlikJOMBANG — Senyum merekah terpancar dari wajah para petani di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Menjelang pergantian musim dari kemarau ke penghujan, komoditas gabah di tingkat produsen mengalami lonjakan harga yang signifikan hingga mendekati level psikologis Rp8.000 per kilogram.
Kondisi gemilang ini praktis membuat para petani tersenyum lebar. Dibandingkan dengan musim panen pada tahun-tahun sebelumnya, capaian harga kali ini dinilai jauh lebih menguntungkan dan mendongkrak kesejahteraan mereka secara signifikan.
Ketua Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) Kabupaten Jombang, M. Soleh, mengungkapkan bahwa tren harga tinggi ini tidak hanya menjadi fenomena lokal di Jombang saja. Gelombang kenaikan serupa turut melanda sejumlah daerah sentra beras tetangga di Jawa Timur.
"Di Ngawi, Caruban, dan Jombang kisarannya segitu (tinggi). Bahkan di Tuban, harganya sudah tembus sampai Rp8.600 per kilogram," kata M. Soleh kepada wartawan, Selasa (3/11/2026).
Berdasarkan data di lapangan, pihak pengusaha penggilingan membeli gabah kering sawah di wilayah Jombang dan sekitarnya dengan harga sekitar Rp8.200 per kilogram.
Sementara itu, nominal yang diterima langsung oleh petani berada di kisaran Rp7.800 hingga Rp7.900 per kilogram.
Soleh menjelaskan, selisih harga tersebut wajar terjadi karena adanya perbedaan tahapan transaksi, serta alur dalam rantai perdagangan hasil panen sebelum akhirnya tiba di tempat pengolahan.
Tantangan Baru bagi Pengusaha Penggilingan
Kendati menjadi surga tersendiri bagi para petani, lonjakan harga bahan baku ini menyimpan tantangan tersendiri bagi para pelaku usaha.
"Tingginya harga di tingkat petani otomatis mengerek biaya operasional pengadaan gabah bagi para pemilik penggilingan padi untuk diolah menjadi beras siap pasar," ujarnya melanjutkan.
Di sisi lain, variasi harga antar wilayah juga terlihat jelas. Kabupaten Tuban tercatat sebagai salah satu daerah dengan nilai jual tertinggi dibanding kawasan sekitarnya.
"Itu memperlihatkan dinamika pasar gabah yang sangat kompetitif di Jawa Timur musim ini," bebernya.
Momentum Oase Pertanian Daerah
Kendati demikian, momentum mahalnya harga gabah kali ini tetap menjadi oase tersendiri yang membuktikan bahwa kerja keras petani di sawah akhirnya berbuah manis dan membawa berkah berlimpah.
Kondisi ekonomi perdesaan diharapkan ikut terdongkrak seiring tingginya daya beli petani pada masa panen kali ini.
"Ini semua berkat kerja keras para petani yang setiap hari di sawah," pungkasnya.
Editor : Redaksi