Kang Ibas: Selesaikan Muktamar NU di Tambakberas, Bukan Sukolilo
Tambakberas, KLIKJOMBANG — Dinamika politik organisasi menjelang penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) kian menghangat. Sejumlah pihak mengingatkan pentingnya menjaga integritas forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut agar tetap berjalan sesuai adab dan aturan resmi.
Pelaksanaan pemegang kekuasaan tertinggi jamiyah ini dinilai harus terbebas dari berbagai bentuk pengondisian terselubung. Langkah-langkah di luar arena dikhawatirkan dapat merusak legitimasi serta kualitas kepemimpinan NU pada masa mendatang.
Sorotan tajam datang dari alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Ide Bagus Setiawan. Pria yang akrab disapa Kang Ibas ini menilai Muktamar semestinya menjadi ruang terbuka untuk menyelesaikan seluruh polemik dan pertarungan gagasan.
Ia mengkritik keras munculnya dugaan upaya mengisolasi, mengarantina, maupun mengondisikan para muktamirin di lokasi luar arena resmi menjelang perhelatan Muktamar ke-35 NU.
Menurut Kang Ibas, segala bentuk perselisihan maupun evaluasi kritis atas kinerja kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode saat ini wajib dibawa dan diuji langsung di dalam forum resmi.
Ia menekankan pentingnya prinsip kesetaraan dan keterbukaan dalam pengambilan keputusan organisasi. Hal itu dinilai krusial agar tidak ada intervensi luar yang berpotensi mencederai marwah jamiyah.
"Kalau ada pertarungan, selesaikan di atas ring. Jangan bertarung di luar ring. Muktamarnya di Tambakberas, bukan di Asrama Haji Sukolilo," tegas Ibas dalam keterangan tertulisnya, Kamis (27/8/2026).
Alumni Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas tahun 2005 asal Cirebon itu menegaskan, arena Muktamar merupakan satu-satunya wadah sah di mana gagasan diuji, penilaian kinerja ditetapkan, perhitungan suara dilakukan, dan keputusan strategis diambil.
Baca juga: Skenario Pemilihan Ketua Umum PBNU dan Pertarungan Legitimasi di Muktamar Tambakberas
Aktivis sosial yang bermarkas di Jawa Barat ini sangat menyayangkan tindakan pihak-pihak yang mencoba mengondisikan sejumlah muktamirin sebelum mereka memasuki arena resmi.
Menurut Ibas, manuver mengarantina peserta di luar lokasi resmi tidak hanya mencederai marwah Muktamar. Langkah itu juga dianggap kurang menghormati para masyayikh Tambakberas yang bertindak sebagai tuan rumah.
Ia mengingatkan bahwa penunjukan Tambakberas sebagai tempat perhelatan Muktamar merupakan hasil keputusan resmi organisasi melalui mekanisme musyawarah mufakat yang sah.
Oleh sebab itu, seluruh elemen dan pemangku kepentingan di tubuh NU hendaknya menjunjung tinggi kesepakatan tersebut tanpa meluncurkan gerakan spekulatif di luar forum formal.
Baca juga: Gus Yahya Jelaskan Mekanisme Usulan AHWA di Lokasi Registrasi Muktamar Ke-35 NU
"Jangan membuat pertandingan tambahan sebelum pertandingan resmi dimulai. Kalau ada kepentingan atau keberatan, sampaikan di forum. Jangan terlalu banyak gerakan tambahan," ujar kader muda Nahdliyin tersebut.
Lebih jauh, Ibas mengingatkan nilai historis Muktamar ke-35 yang menandai perjalanan awal abad kedua NU. Pemilihan Tambakberas erat kaitannya dengan penghormatan terhadap pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah.
Muktamar di bumi Tambakberas diharapkan menjadi momentum ngalap barokah sekaligus titik balik penataan serta pemulihan marwah organisasi setelah menerjang dinamika besar sepanjang periode ini.
"Tambakberas tidak menyiapkan panggung untuk permainan di belakang layar. Tambakberas menyediakan octagon yang dibangun dengan marwah, uswah, dan akhlak. Masuklah ke dalam ring dan bertandinglah secara fair," pungkas Ibas.
Editor : Redaksi