Kisah 'Verlengd' Usia Mbah Wahab Chasbullah: Bukti Dedikasi dan Pengabdian Ulama NU hingga Hembusan Napas Terakhir
KLIKJOMBANG.COM — Dedikasi dan totalitas perjuangan ulama besar Nahdlatul Ulama (NU) dalam mengabdi kepada umat dan bangsa kerap menghadirkan peristiwa sejarah yang tak biasa.
Salah satu bukti keagungan dedikasi ulama tersebut terpancar dari detik-detik akhir kehidupan Pendiri NU sekaligus Pahlawan Nasional, KH Abdul Wahab Chasbullah.
Fragmen bersejarah tentang fenomena perpanjangan usia (verlengd) Mbah Wahab diuraikan secara emosional oleh sang putra, KH M Hasib Wahab, di Auditorium Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha) Jombang, Sabtu (15/8/2026) malam.
Dalam forum bedah buku karya H. Abdul Mun’im DZ tersebut, Gus Hasib membeberkan bagaimana keteguhan peran seorang ulama mampu melampaui batas-batas stamina fisik.
Kisah dedikasi yang tergolong unik itu bermula menjelang gelaran Muktamar ke-25 NU di Surabaya pada Desember 1971, saat kondisi kesehatan Mbah Wahab berada dalam keadaan amat kritis.
Di kediamannya di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, sosok kiai penggerak ini terbaring lemah dengan posisi kedua tangan bersedekap bak orang pasrah.
Keluarga dan para santri yang mendampingi dalam suasana tegang telah berpasrah memanjatkan doa, bersiap melepaskan kepergian sang guru besar ke hadirat Sang Pencipta.
Namun, di tengah suasana kepasrahan tersebut, terjadi peristiwa spiritual ketika Mbah Wahab mendadak membuka mata dan mengisyaratkan gerakan penolakan.
Baca juga: Pencalonan Nasaruddin Umar di Muktamar NU Ke-35 Dipastikan Sah Secara AD/ART
"Gak sido-gak sido, aku verlengd (Tidak jadi, tidak jadi. Saya diperpanjang)," ucap KH Hasib Wahab menirukan perkataan tegas sang ayah kala itu, dikutip KlikJombang, Senin (17/8/2026).
Istilah verlengd yang diserap dari bahasa Belanda tersebut mengisyaratkan fenomena di mana sang kiai memohon perpanjangan usia kepada Allah SWT demi menuntaskan tugas keumatan.
Sebagai Rais Aam PBNU, Mbah Wahab merasa memiliki tanggung jawab moral yang belum tuntas jika belum menyampaikan laporan pertanggungjawaban (LPJ) di arena muktamar.
Menariknya, usai peristiwa penolakan tanda-tanda kematian tersebut, kesehatan ulama kharismatik ini mendadak pulih secara signifikan hingga kembali bugar.
Berkat perpanjangan usia tersebut, Mbah Wahab sukses menghadiri langsung seluruh rangkaian Muktamar ke-25 NU di Surabaya pada 20–25 Desember 1971.
Baca juga: Semarakkan Muktamar ke-35 NU, PB IKA PMII Siapkan Empat Serial Diskusi Strategis dan Bedah Buku
Kehadiran sosok ulama sepuh ini di atas mimbar muktamar menjadi bukti nyata betapa amanah organisasi dan kemaslahatan umat berada di atas kepentingan pribadi.
Hanya selang beberapa hari setelah agenda besar PBNU itu tuntas, tepatnya pada 29 Desember 1971 pagi, Mbah Wahab kembali berbaring bersedekap dan berpulang ke Rahmatullah dengan tenang.
Putri Mbah Wahab, Nyai Hj Mundjidah Wahab, turut mencatat bahwa sang ayah sempat mengonfirmasi langsung pengalaman perpanjangan usia itu kepada anak-anaknya sebelum wafat.
Pengalaman verlengd ini menegaskan integritas ulama sejati yang memandang usia sebagai instrumen pengabdian, sekaligus mengabadi sebagai simbol tertinggi dedikasi ulama Nusantara bagi bangsa dan negara.
Editor : Redaksi