Cerita di Balik Sukses Muktamar Ke-35 NU: Khidmah Totalitas Santri Tambakberas dan Harapan Abad Kedua
JOMBANG, KlikJOMBANG — Gelak tawa dan keharuan menyelimuti halaman Gedung Serbaguna (GSG) KH Hasbullah Said, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (10/9/2026) malam. Suasana hangat itu menjadi penanda berakhirnya tugas Panitia Lokal Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang resmi dibubarkan secara formal.
Baca juga: Catatan Muktamar Ke-35 NU: Prof Nuh Beberkan 3 Hal Luar Biasa di Tambakberas
Muktamar yang menyedot perhatian jutaan Nahdliyin di seluruh pelosok negeri itu kini tinggal kenangan manis. Kendati demikian, jejak kerja keras dan totalitas para relawan di balik layar Pondok Pesantren Bahrul Ulum tetap menjadi cerita inspiratif yang berkesan.
Dalam forum penutupan tersebut, Ketua Panitia Lokal Muktamar Ke-35 NU KH Abdurrozaq Sholeh tak mampu menyembunyikan rasa syukur serta apresiasi mendalamnya. Ia menegaskan bahwa kunci utama kelancaran gelaran akbar ini terletak pada soliditas dan kerja sama antar-elemen yang sangat solid.
Pria yang akrab disapa Gus Rozaq itu mengungkapkan, menyelenggarakan agenda berskala nasional dalam tenggat persiapan yang sangat mepet bukan perkara mudah. Namun, koordinasi intensif antar-pihak terbukti mampu menjawab keraguan publik sejak awal.
"Luar biasa alhamdulillah, keberhasilan muktamar ini karena kalian-kalian semua yang mampu berkolaborasi, mampu berkoordinasi meski persiapannya hanya 50 hari," ujar Gus Rozaq di hadapan ratusan relawan panitia dikutip Klikjombang.com, Jumat (11/9/2026).
Rasa bangga terpancar jelas saat Gus Rozaq merinci keterlibatan seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Mulai dari jajaran pengasuh, para kiai, nyai, gus, ning, hingga guru, karyawan, alumni, dan para santri bahu-membahu mencurahkan tenaga serta pikiran.
Bagi warga Tambakberas, kesempatan menjadi tuan rumah ajang tertinggi NU adalah momen langka yang belum tentu berulang dalam kurun setengah abad ke depan. Motivasi inilah yang membakar semangat para santri untuk menyuguhkan pelayanan terbaik bagi para tamu ulama.
"Alhamdulillah santri-santri Tambakberas saget berkhidmah untuk Jamiyah Nahdlatul Ulama. Sebab sering saya tekankan, kapan lagi kalau tidak sekarang? 50 tahun, 100 tahun belum tentu muktamar dilaksanakan di Tambakberas," ungkapnya.
Kerja keras tanpa kenal lelah para panitia di lapangan bahkan melahirkan kelakar khas pesantren yang cukup menggelitik. Gus Rozaq memplesetkan jargon populer NU untuk menggambarkan betapa menguras tenaganya agenda persiapan selama 50 hari tersebut.
Baca juga: Laka Tunggal di Tol Jomo: Mobil Pick Up Hantam Pembatas Jalan, Dua Orang Dilarikan ke RSUD
"Kalau kemarin ada istilah 'Pengurus PBNU sak cukupe, NU sak lawase. Kita juga ada istilah 'Jadi panitia sak mblengere, NU sak lawase'. Saya yakin semua panitia ini benar-benar tulus bekerja demi berkhidmah kepada jamiyah," tuturnya disambut tawa riuh panitia.
Di penghujung narasi sambutannya, Gus Rozaq menyampaikan permohonan maaf setulusnya atas ketegasan maupun kekurangan selama memimpin persiapan muktamar. Ia berdoa agar seluruh pengorbanan dan khidmah keluarga besar pesantren dicatat sebagai amal saleh yang mendatangkan keberkahan.
"Kami atas nama panitia mohon maaf yang sebesar-besarnya. Mohon doa juga mudah-mudahan seluruh panitia yang telah berkontribusi ini diberi ilmu manfaat, barokah fiddini waddunya wal-akhirah," ucapnya penuh haru.
Kebahagiaan atas suksesnya penyelenggaraan ini turut dirasakan oleh Ketua Organizing Committee (OC) Muktamar Ke-35 NU, H Saifullah Yusuf. Pria yang akrab disapa Gus Ipul ini mengapresiasi tinggi sinergi panitia lokal serta bobot materi rancangan Steering Committee yang dipimpin Prof Mohammad Nuh.
Menurut Gus Ipul, muktamar di Tambakberas ini tidak hanya sukses secara kaji organiasi dan teknis, tetapi juga berhasil melahirkan kesepakatan-kesepakatan strategis. Seluruh rumusan yang disepakati dirancang khusus untuk membawa NU menjadi jamiyah yang digdaya memasuki abad kedua perjalanannya.
Baca juga: Jombang Launching Smart Card Beresin Sampah, Dorong Ekonomi Digital Warga
"Alhamdulillahnya adalah hasilnya bagus dan sesuai harapan. Ada Prof Nuh sebagai steering committee yang mempersiapkan materi-materi untuk membuat jamiyah ini digdaya di abad kedua, dan itu semua berhasil disepakati," jelas Gus Ipul.
Capaian penting lainnya dalam Muktamar Ke-35 NU ini adalah ditetapkannya kepengurusan baru PBNU untuk masa khidmat 2026–2031. Pasangan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum PBNU resmi terpilih untuk memimpin roda organisasi lima tahun mendatang.
"Alhamdulillah hasil kepemimpinannya juga luar biasa, KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin terpilih untuk menjadi nakhoda jamiyah Nahdlatul Ulama lima tahun yang akan datang," terangnya penuh optimisme.
Terpilihnya nakhoda baru PBNU melengkapi rasa syukur seluruh panitia yang telah bekerja maraton. Gus Ipul meyakini, di bawah kepemimpinan duet ulama tersebut, langkah konsolidasi organisasi dan pelayanan NU kepada umat di masa depan akan berjalan jauh lebih lancar serta padu.
"Insyaallah, dengan hasil yang seperti itu, ke depan NU semuanya akan lebih lancar. Kita bersyukur semua yang sulit menjadi gampang, waktu yang pendek tak menjadi halangan. Kita bersyukur sudah bisa melewati masa-masa yang sulit dan akhirnya menjadi sukses," pungkas Gus Ipul.
Editor : Redaksi