Diduga Keracunan MBG

Puluhan Siswa SMPN 1 Kabuh Jombang Diduga Keracunan Menu MBG, Dilarikan ke Puskesmas

Reporter : Redaksi

Puluhan Siswa SMPN 1 Kabuh Jombang Diduga Keracunan Menu MBG, Dilarikan ke Puskesmas

KlikJOMBANG — Sebanyak 70 siswa SMPN 1 Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terpaksa harus menjalani observasi medis di Puskesmas Kabuh. Langkah ini diambil usai para siswa mengalami sejumlah keluhan kesehatan yang diduga kuat berkaitan dengan konsumsi program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Baca juga: Muktamar ke-35 NU: KH Miftachul Akhyar Kembali Rais Aam, 5 Nama Berebut Kursi Ketua Umum PBNU

Puluhan pelajar tersebut dilaporkan mengalami gejala medis yang serupa, mulai dari rasa mual, pusing, pingsan, hingga sakit perut hebat usai menyantap menu MBG pada Rabu (2/9/2026).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, gejala dugaan keracunan ini tidak langsung muncul secara bersamaan, melainkan dirasakan secara bertahap oleh sejumlah siswa sejak Rabu sore hingga Kamis (3/9/2026) dini hari.

Dokter Jaga Puskesmas Kabuh, Aditya Bimantara, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menangani puluhan siswa yang datang dengan keluhan fisik yang tergolong seragam.

"Totalnya sekitar 70 siswa yang ke sini. Keluhannya dominan perutnya melilit," kata Aditya saat ditemui di lokasi penanganan medis kepada wartawan dikutip Klikjombang.com.

Ia menjelaskan, sebagian besar siswa yang datang memeriksa kondisi kesehatannya juga melaporkan telah mengalami gangguan pencernaan berupa diare dengan frekuensi rata-rata tiga kali.

Meski demikian, pihak medis memastikan tidak menemukan adanya pasien yang mengalami keluhan diare parah hingga lebih dari lima kali pengulangan.

Dari puluhan anak yang masuk ke penanganan medis, tenaga kesehatan Puskesmas Kabuh memutuskan untuk memilah pasien berdasarkan tingkat keparahan gejala yang dialami.

"Dari 70 siswa, ada tujuh siswa, terdiri dari enam siswi dan satu siswa laki-laki, kita infus dan dirawat di Puskesmas," ujar Aditya menjelaskan kondisi penanganan terkini.

Keputusan rawat inap terhadap tujuh pelajar tersebut diambil lantaran mereka mengeluhkan rasa nyeri di area perut yang terbilang cukup intens serta kondisi diare yang tak kunjung mereda.

Sementara itu, sebanyak 63 siswa sisanya diperbolehkan langsung pulang ke rumah masing-masing setelah selesai menjalani proses observasi dan penanganan awal oleh tim medis.

"Mereka cuma merasa mual dan perutnya melilit, tapi masih bisa ditahan, masih bisa makan dan minum," tutur Aditya menambahkan terkait alasan pemulangan puluhan siswa lainnya.

Baca juga: Hasil AHWA Muktamar Ke-35 NU: KH Miftachul Akhyar Kembali Amankan Kursi Rais Aam PBNU

Salah satu siswa yang harus mendapatkan perawatan intensif di puskesmas, Ellena Lukitaning Sari, menceritakan detik-detik sebelum dirinya mulai merasa mual dan sakit perut.

Ellena mengungkapkan bahwa pada hari kejadian, ia menyantap sajian paket nasi MBG yang berisi lauk udang lengkap beserta olahan sayuran.

Ia menyadari ada hal yang tidak biasa pada cita rasa makanan yang disajikan, di mana olahan sayur yang ia makan terasa tidak seperti biasanya.

"Agak pahit. Sayurnya," ujar Ellena mengenang kembali rasa makanan yang dikonsumsinya sebelum jatuh sakit.

Tidak lama setelah mengonsumsi hidangan tersebut, rasa tidak nyaman mulai menyerang tubuhnya hingga ia mengalami diare pada sore harinya dan berlanjut muntah-muntah.

Ellena juga menambahkan bahwa rasa sakit yang dialaminya ternyata tidak berdiri sendiri, sebab rekan-rekan sekelas di sekelilingnya turut mengeluhkan gejala serupa.

Baca juga: Gus Yahya Imbau Pendukung Gus Yusuf Tenang di Muktamar Ke-35 NU: Janji Beri Peran Strategis

Dampak dari peristiwa ini pun memicu kecemasan mendalam di kalangan para orang tua murid, seperti yang diungkapkan oleh Atik, salah satu wali siswa setempat.

Atik membeberkan bahwa anaknya sempat mengalami keluhan pusing berat dan sakit perut yang menajam hingga akhirnya pingsan mendadak saat berada di lingkungan sekolah.

"Kemarin itu perutnya enggak enak, terus pusing. Terus paginya pusing banget. Terus di sekolah itu pingsan," ungkap Atik dengan nada khawatir.

Meskipun mengakui bahwa anaknya sempat menyantap hidangan nasi MBG sebelum ambruk, Atik sendiri mengaku belum berani mengambil kesimpulan pasti terkait penyebab utama anaknya tumbang.

"Ya enggak tahu ya, dari MBG atau enggak, enggak tahu saya," tutur Atik pasrah saat mendampingi sang buah hati yang tampak masih lemas dan mengeluhkan pusing di ruang perawatan.

Hingga saat ini, dugaan kasus keracunan massal akibat konsumsi hidangan MBG tersebut masih terus didalami oleh pihak-pihak terkait dan membutuhkan uji laboratorium lebih lanjut guna memastikan penyebab pastinya.

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru