Lindungi Anak dari Judi Online dan Pinjol, Senator Ning Lia Dorong Peran Sentral Ibu di Era Digital
Surabaya, KlikJOMBANG - Ancaman dunia digital yang kian masif terhadap keselamatan anak-anak memicu keprihatinan serius Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Hj. Lia Istifhama. Senator yang akrab disapa Ning Lia tersebut mengajak kaum perempuan, khususnya para ibu, untuk menjadi garda terdepan dalam melindungi generasi muda dari bahaya judi online, pinjaman online ilegal, hingga sebaran informasi menyesatkan di media sosial.
Baca juga: Potensi Besar Gerbang Baru Nusantara, Ning Lia Ajak Mahasiswa UTM Bangun Peradaban dari Timur
Pesan tegas itu disampaikan Ning Lia saat menghadiri sekaligus membuka Seminar Wanita LDII Jawa Timur bertema “Membangun Ekosistem Perlindungan Anak di Ruang Digital sebagai Ruang yang Aman, Sehat, dan Ramah untuk Anak” di Surabaya pada Minggu, 25 Oktober 2026.
Forum edukatif yang berfokus pada keselamatan generasi muda di ruang siber ini diikuti sekitar 200 peserta secara tatap muka dan menjangkau hingga 20 ribu peserta secara daring dari berbagai wilayah di Jawa Timur.
Dalam paparan utamanya, Ning Lia mengingatkan bahwa pesatnya perkembangan teknologi digital membawa tantangan tersendiri bagi pembentukan karakter dan nilai moral generasi penerus. Kemudahan mengoperasikan gawai pintar kerap kali tidak sejalan dengan kemampuan anak-anak dalam menyaring informasi yang sehat dan bermanfaat.
"Mereka bisa terpapar judi, pinjol, maupun yang lain-lain," ujar legislator asal Jawa Timur tersebut di hadapan peserta seminar dikutip klikjombang.com, Selasa (27/10/2026).
Selain maraknya jeratan platform ilegal, fenomena post-truth juga disorot Ning Lia sebagai ancaman serius di era era digital saat ini. Fenomena ini membuat persepsi dan keyakinan anak-anak lebih gampang dipengaruhi oleh luapan emosi serta narasi berulang ketimbang fakta objektif.
Ia mencontohkan kebiasaan anak-anak yang kerap menggulirkan linimasa media sosial seperti TikTok tanpa henti, tanpa dibekali pemahaman mendalam untuk memverifikasi kebenaran konten yang mereka terima.
Melihat kondisi tersebut, alumnus Universitas Airlangga ini menegaskan bahwa keberadaan dan peran emosional seorang ibu tidak akan pernah bisa digantikan oleh kemajuan teknologi se canggih apa pun.
Baca juga: Revolusi Digital Peradilan Jatim: Ning Lia Pantau Layanan E-Court hingga e-Berpadu di PT Surabaya
Lingkungan keluarga harus diposisikan sebagai benteng pertahanan utama dalam membangun kesadaran kritis anak, agar mereka mampu memanfaatkan kemajuan teknologi secara sehat, aman, dan bertanggung jawab.
Ning Lia turut memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen organisasi perempuan LDII Jawa Timur yang secara konsisten terdepan dalam membangun ketahanan keluarga dan menjaga nilai moral generasi muda.
Secara khusus, ia menggarisbawahi pentingnya penguatan kepemimpinan perempuan dalam mendorong kaum ibu agar terus mengasah pengetahuan serta adaptif menghadapi gelombang transformasi teknologi.
"Bagaimana LDII menjadi ruang utama santri sebagai penjaga moralitas bangsa," ungkap Ning Lia menekankan pentingnya LDII untuk terus memperkuat nilai Pancasila dan persatuan nasional.
Baca juga: Senator Ning Lia Sebut PT Surabaya Layak Jadi Percontohan Digitalisasi Peradilan Nasional
Senada dengan hal itu, Ketua DPW LDII Jawa Timur, Ir. KH. M. Amrodji Konawi, menegaskan tiga pilar utama dalam pembinaan anak, yakni pola asuh keluarga, pergaulan yang positif, serta kolaborasi aktif bersama pemerintah dan masyarakat.
Menurut Amrodji, pendidikan karakter di dalam rumah merupakan fondasi dasar paling krusial untuk mencetak generasi yang berakhlakul karimah, paham agama, dan mandiri.
"Kami berharap ibu-ibu sekalian pulang dari sini membawa komitmen baru untuk kemudian mengajarkan anaknya menggunakan internet yang sehat," tutur Amrodji memperingatkan bahaya judi online dan pinjol yang dapat merusak masa depan anak.
Seminar strategis ini turut dihadiri jajaran pimpinan lintas instansi dan organisasi perempuan di Jawa Timur, seperti Kadis Kominfo Jatim Sherlita Ratna Dewi Agustin, Kadis DP3AK Jatim Sufi Agustini, Ketua Muslimat NU Masruroh Wahid, Ketua Aisyiyah Rukmini Amar, Ketua Fatayat NU Siti Maulidah, serta Ketua Nasyiatul Aisyiyah Arin Setiyowati.
Editor : Redaksi