Demi Muluskan Jagoan Elit, Ketua GMNI Jember Babak Belur Dianiaya Pakai Batu di Arena Konferda
NGANJUK, KlikJOMBANG — Arena Konferensi Daerah (Konferda) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur yang digelar di Nganjuk berujung ricuh. Forum musyawarah mahasiswa tersebut berubah menjadi panggung bentrokan dan aksi penganiayaan fisik.
Baca juga: Skandal Konferda GMNI Jatim: Rekomendasi Cacat Hukum dan Kekerasan Meredam Protes Kader
Kericuhan dipicu oleh penolakan peserta sidang terhadap dugaan pengondisian pemenangan calon pimpinan DPD GMNI Jawa Timur tertentu secara tidak sah.
Ketua DPC GMNI Jember, Aziz, menjadi korban utama dalam insiden berdarah yang terjadi di dalam arena persidangan tersebut.
Aziz mengalami luka serius di bagian wajah, dengan bibir robek dan bersimbah darah akibat dugaan hantaman batu dari pelaku.
Korban terpaksa menyumbat pendarahan di area mulutnya menggunakan tumpukan tisu tebal di tengah suasana forum yang makin memanas.
Kekerasan terjadi saat DPC GMNI Jember melayangkan interupsi kritis terkait keabsahan dokumen persyaratan pasangan calon yang dinilai menabrak aturan dasar organisasi.
Aziz menilai surat rekomendasi calon DPD GMNI Jatim cacat hukum karena ditandatangani oleh Danang Prawito, sosok yang disinyalir masih aktif menjadi pengurus DPC PDI Perjuangan Tulungagung.
"Ini organisasi gerakan mahasiswa, bukan underbouw apalagi alat transaksional partai politik," tegas Aziz usai insiden penganiayaan Klikjombang.com, Senin (7/9/2026).
Baca juga: Kericuhan Warnai Konferda GMNI Jatim di Nganjuk, Ketua DPC Jember Diduga Dipukul Pakai Batu
Pihaknya mempertanyakan sikap pimpinan sidang yang meloloskan rekomendasi berujung intervensi partai politik praktis ke dalam tubuh GMNI.
"Bagaimana mungkin seorang pengurus aktif DPC PDIP Tulungagung masih memegang SK dan menandatangani rekomendasi resmi? Ini jelas pelecehan terhadap AD/ART," lanjutnya.
Aksi penganiayaan tersebut diduga kuat dilakukan oleh Pimpinan Sidang Tetap, Virgiawan Budi, yang merupakan kader asal DPC GMNI Surabaya.
Tindakan represif dan pengusiran paksa diduga sengaja dirancang untuk memuluskan jalan calon ketua bernama Kelvin agar menang tanpa hambatan.
Selain pemukulan, aksi premanisme berlanjut pada perampasan ponsel pribadi milik Aziz yang sempat memicu aksi kejar-kejaran di area lokasi acara.
Di sisi lain, jajaran pimpinan tertinggi organisasi dinilai berlepas tangan atas insiden berdarah dan maraknya dugaan keberadaan cabang siluman di forum Konferda.
Pihak panitia pelaksana mengaku tidak mengetahui keberadaan Ketua DPD GMNI Jatim, Hendra, maupun Ketua DPP GMNI, Risyad, saat bentrokan pecah.
"Kami mencoba berkoordinasi dengan DPD maupun DPP untuk langkah terbaik, tetapi tidak ada jawaban," ujar salah satu anggota panitia pelaksana.
Editor : Redaksi