Muktamar ke-35 NU di Tambakberas

Gus Muhaimin Serukan Rescue NU, PB IKA PMII Luncurkan Buku Peta Kepemimpinan 2029

Reporter : Redaksi
Gus Muhaimin

Gus Muhaimin Serukan Rescue NU, PB IKA PMII Luncurkan Buku Peta Kepemimpinan 2029

Denanyar, KlikJOMBANG — Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menyerukan gerakan penyelamatan Nahdlatul Ulama dari berbagai persoalan internal yang membelit selama lima tahun terakhir. Imbauan mendesak tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Umum DPP PKB, Abdul Muhaimin Iskandar, dalam forum konsolidasi kader di Jombang.

Baca juga: Khofifah Dorong Naskah Turats Ulama Nusantara Jadi Referensi Peradaban Dunia

Seruan tersebut mengemuka saat peluncuran buku Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan: Jejak Langkah Alumni PMII di Panggung Politik, Akademik, dan Kemasyarakatan di Salam Hall Denanyar. Forum yang dihuni para tokoh alumni ini dimanfaatkan untuk mengonsolidasikan arah perjuangan menjelang pelaksanaan Muktamar NU.

Gus Muhaimin menegaskan bahwa keberadaan wadah alumni di arena muktamar memiliki posisi geopolitik yang amat strategis. Para alumni dituntut tidak sekadar menjadi penonton pasif, melainkan harus mengambil peran aktif sebagai penentu arah perbaikan jamiyyah.

Ia secara terbuka menyoroti tema besar penyelamatan NU dari keterpurukan manajemen serta dinamika internal yang dinilai menggerus marwah. Evaluasi total dipandang sebagai prasyarat mutlak untuk mengembalikan kejayaan organisasi keagamaan terbesar tersebut.

"Tema terbesar hari ini adalah menyelamatkan NU dari keterpurukan lima tahun terakhir," tegas Muhaimin di hadapan ratusan alumni lintas generasi dikutip Klikjombang.com, Jumat (28/8/2026).

Ia meminta seluruh jaringan alumni memberanikan diri mengakui berbagai kelemahan internal secara jujur demi memuluskan agenda perbaikan. Keberanian dalam melihat realitas objektif menjadi langkah awal sebelum merumuskan formula penyembuhan organisasi.

Menurut Muhaimin, fenomena perebutan sumber daya serta gesekan kepentingan politik praktis di ruang publik telah melukai perasaan warga nahdliyin di akar rumput. Marwah NU sebagai benteng moral kebangsaan dinilai terpukul akibat dinamika destructive tersebut.

"Perih lima tahun terakhir ini. Saya sebagai kader PMII, sebagai kader NU, melihat cakar-cakaran, rebutan uang di publik," ungkapnya.

Baca juga: Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas: Gus Yahya Optimistis Tegaskan Niat Maju Kembali dan Tepis Isu Intervensi Istana

Sementara itu, Ketua Umum PB IKA PMII, Fathan Subchi, menyatakan bahwa penerbitan buku yang menggalang tulisan dari 44 alumni ini dirancang sebagai gagasan kepemimpinan nasional. Karya ini merangkum pemikiran kritis para alumni yang berkiprah di sektor politik, akademik, bisnis, hingga pendampingan masyarakat sipil.

Fathan mengibaratkan pergeseran paradigma gerakan alumni dari sekadar ideologi menuju kepemimpinan nyata di ranah kebijakan publik. Kekuasaan yang diraih kader hendaknya dikonversi menjadi regulasi konkrit yang memberi nilai tambah bagi kemaslahatan masyarakat luas.

Wasekjen PB IKA PMII, M Sholeh Basyari, menambahkan bahwa buku ini sengaja menyodorkan alternatif kepemimpinan berjenjang yang lahir dari tradisi pergerakan. Sistem kaderisasi PMII yang matang ditawarkan sebagai jalan keluar atas krisis kepemimpinan di tingkat nasional.

Sholeh turut memaparkan analisa menarik terkait siklus Keberhasilan Angka Sembilan dalam sejarah politik alumni PMII dan warga NU. Catatan empiris menunjukkan momentum politik penting selalu berulang dalam rentang satu dekade sejak reformasi.

Fenomena tersebut tercatat mulai dari kemenangan Gus Dur pada 1999, konsolidasi partai pada 2009, hingga terpilihnya KH Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden RI pada 2019. Pola histori sepuluh tahunan ini diprediksi bakal kembali menemui titik krusialnya pada pemilu 2029.

Baca juga: BAZNAS Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Beasiswa di Muktamar ke-35 NU Jombang

"Pertanyaannya, apakah siklus sembilan tahunan yang sukses itu akan terulang pada 2029? Kalau terulang, tokoh sentralnya hanya satu, yakni Dr. Abdul Muhaimin Iskandar," terang Sholeh.

Di sisi lain, Ketua Umum IKA Perempuan PMII, Luluk Nur Hamidah, membawa perpektif sosiologis mendalam melalui karyanya yang bertajuk Ublek dan Oncor. Luluk mengajak publik melihat kekuatan sejarah NU bukan dari gemerlap panggung kekuasaan, melainkan dari kesederhanaan tradisi musala dan kampung.

Menurut Luluk, akar kebudayaan NU dirawat oleh para kiai kampung, guru ngaji, serta para ibu nyai yang telaten mengajarkan dasar-dasar agama. Dari ruang-ruang intim inilah nilai-nilai moderasi dan pengabdian tumbuh sebelum akhirnya bertransformasi menjadi kekuatan sosial raksasa.

"NU itu saya mulai tidak dari sesuatu yang besar seperti hari ini, tetapi dari sesuatu yang kecil, sangat intim, dan indah yang digambarkan seperti Ublek," pungkas Luluk.

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru