Candi Rimbi Jombang Warisan Majapahit: Bukti Arkeologis, Arsitektur, hingga Gaya Pahat Relief
Jombang, KlikJOMBANG - Perdebatan mengenai latar belakang sejarah situs purbakala di Jawa Timur kembali menjadi sorotan akademisi. Peneliti sekaligus penulis sejumlah buku tentang Candi Rimbi, Nona Nur Madina, menegaskan bahwa Candi Rimbi yang terletak di Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, secara historis merupakan peninggalan dari era Kerajaan Majapahit.
Pernyataan tegas ini disampaikan untuk meluruskan berbagai spekulasi keliru yang sempat beredar di tengah masyarakat. Berdasarkan hasil kajian mendalam yang dilakukannya, Candi Rimbi dikenal sebagai struktur bangunan suci yang berbahan baku batu andesit, meskipun sebagian besar bagian tubuh candi tersebut kini telah mengalami keruntuhan akibat faktor usia dan alam.
"Kemudian diduga sebagai pendarmaan Tribuana Tunggadewi. Tentunya berasal dari masa Majapahit dilihat dari ornamentasinya, arsitekturnya, maupun gaya pahat reliefnya," ujar Nona kepada KlikJOMBANG.com, Selasa (27/10).
Sebagai bangunan cagar budaya yang bernilai tinggi, keaslian Candi Rimbi sebagai peninggalan Majapahit bukan hanya klaim sepihak. Nona membeberkan bahwa banyak arkeolog dan akademisi senior telah lama sepakat mengenai hal tersebut, termasuk tokoh-tokoh besar dalam dunia arkeologi Nusantara.
"Banyak sekali para arkeolog dan akademisi yang sebelumnya juga menyatakan jika Candi Rimbi merupakan candi Majapahit. Seperti Nicolaas Johannes Krom hingga Profesor Agus Aris Munandar, Ismail Lutfi, dan juga sejumlah nama besar lainnya," ungkap Nona meyakinkan.
Lebih lanjut, Nona menepis anggapan awam yang kerap keliru mengaitkan bahan baku bangunan dengan penentuan era pembuatan candi. Selama ini, sebagian kalangan beranggapan bahwa candi berbahan batu andesit otomatis berasal dari periode klasik tua, sementara bata identik dengan era klasik muda.
"Bahan baku dari bata ataupun batu andesit bukan semata mencerminkan masa tertentu dari candi. Menurutnya, pada masa periode klasik tua, candi-candi yang berada di Jawa Tengah memang terbuat dari batu andesit," jelas mahasiswi program Doktoral S-3 Ilmu Humaniora Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya tersebut.
Meski demikian, ia memberikan contoh bahwa penggunaan material bata maupun batu alam tidak bersifat mutlak pada satu zaman tertentu saja. Eksistensi bangunan kuno di Nusantara membuktikan adanya variasi material yang disesuaikan dengan ketersediaan sumber daya alam di sekitar wilayah pembangunan.
"Tapi ada kok candi-candi dari bata, disebut Candi Abang. Tapi karena sudah runtuh, jadi ya nggak ada. Candi-candi di Majapahit itu bahkan ada yang dari batu andesit, meskipun mayoritas berasal dari bata kuno," paparnya.
Bahkan, merujuk pada kompleks situs purbakala Trowulan di Mojokerto, terdapat sejumlah situs penting yang memanfaatkan batu andesit sebagai material utamanya. Salah satu contoh paling nyata dan mencolok adalah situs Candi Minak Jinggo yang memiliki struktur batu berukuran besar.
"Setidaknya ada lima situs di Trowulan yang menggunakan batu, bukan bata, atau setidaknya kombinasi. Yang paling kentara itu Candi Minak Jinggo. Kelihatan kalau candinya itu andesit dan besar," tambahnya menegaskan.
Dari analisis komparatif tersebut, Nona menyimpulkan bahwa baik era klasik tua maupun klasik muda sama-sama mengenal penggunaan material bata maupun batu andesit. Pemilihan bahan bangunan pada masa lampau sepenuhnya berpijak pada aspek fungsionalitas dan ketersediaan logistik lokal.
"Pada dasarnya semua tergantung ketersediaan bahan, dan penggunaan bata memenuhi konsep Panca Mahabhuta," tandas peneliti muda yang aktif mengkaji relief candi tersebut.
Argumen paling kuat yang membuktikan Candi Rimbi berasal dari era Majapahit dapat dilihat langsung dari detail ornamen yang menghiasi struktur bangunannya. Salah satu elemen estetika yang paling ikonik adalah ornamen Tumpal atau motif segitiga terbalik yang kini bahkan menjadi inspirasi motif batik khas Jombang, yaitu batik nJombangan.
"Ornamen itu sejatinya bukan milik Candi Rimbi saja. Kita dapat temui di Yoni Gambar ada, di Candi Kedaton Tiris ada, di Candi Jago ada, di Gapura Jedong ada, di Candi Sawentar ada," rinci Nona.
Seluruh situs pembanding yang disebutkan oleh Nona tersebut telah diuji secara ilmiah dan diakui oleh para sejarawan sebagai pakem arsitektur era Majapahit. Metode pendekatan perbandingan seriasi ini menjadi kunci penting mengingat Candi Rimbi tidak memiliki angka tahun maupun prasasti tertulis.
"Untuk mengetahui masa, karena Candi Rimbi tidak ada angka tahunnya, tidak ada prasastinya, kita bisa pakai masa relatif dengan seriasi atau persamaan dengan candi-candi sezaman," urai Nona.
Konsistensi gaya seni hias pada masa lampau menunjukkan adanya tren estetika yang dianut oleh para undagi atau arsitek istana Majapahit. Hal inilah yang memperkuat posisi Candi Rimbi dalam linimasa sejarah kerajaan Hindu-Buddha terbesar di nusantara tersebut.
"Karena umumnya para pembuat candi itu ada gayanya, ada trennya. Candi Rimbi itu tren klasik muda banget dan itu Majapahit," tutur Nona.
Selain motif Tumpal, ciri khas era Majapahit pada Candi Rimbi juga terpancar kuat melalui corak pahatan reliefnya yang memiliki karakter unik. Berbeda dengan relief klasik tua yang bernuansa naturalis halus, relief di Candi Rimbi menampilkan ciri khas seni visual akhir Majapahit.
"Reliefnya kaku dan gaya wayang yang kelihatan dari samping. Jadi menyamping di mana orangnya kelihatan dari samping, terus kakinya berjajar kayak gambar anak-anak. Itu 'wayang style'. Pahatannya tidak terlalu dalam," jelasnya.
Aspek tematik dari relief tersebut juga kian memperkuat dugaan era pembuatan candi. Sumber cerita yang diadaptasi pada dinding Candi Rimbi bersumber dari naskah-naskah lokal Nusantara, bukan lagi wiracarita klasik India yang mendominasi candi-candi periode sebelumnya.
"Kisah dalam relief itu cerita yang bersumber dari naskah kuno lokal. Kalau di Candi Rimbi, Sang Satyawan. Itu muncul pada masa klasik muda, berbeda dengan candi-candi klasik tua yang bersumber dari kisah naskah kuno dari India," sambung Nona.
Indikator terakhir yang tak terbantahkan adalah temuan arca Parwati dari Candi Rimbi yang kini menjadi koleksi penting museum. Keberadaan atribut artistik khusus pada arca tersebut mengarah secara spesifik pada estetika zaman Majapahit akhir.
"Umumnya arca yang ada bunga Padma keluar langsung dari bonggolnya, masa Tumapel. Kemudian yang ada potnya, diindikasikan dari masa yang lebih muda, yaitu masa Majapahit," terang Nona.
Menutup perbincangan, Nona berpesan agar diskursus akademis mengenai warisan sejarah bangsa harus selalu berpijak pada metodologi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Perbedaan interpretasi di kalangan peneliti merupakan hal biasa, asalkan didukung oleh verifikasi data lapangan yang akurat.
"Harus didasarkan bukti arkeologis yang valid. Intinya mainlah yang jauh, kunjungi banyak candi lain. Baca literatur dan data yang banyak, baru berpendapat," pungkasnya.
Editor : Redaksi