Jelang Muktamar NU, Gus Yahya Hadiri Bedah Buku KH Wahab Chasbullah di Tambakberas: Siap Beberkan Pemikiran Sang Pendiri ?
JAKARTA, KLIKJOMBANG.COM — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya dijadwalkan menghadiri acara bedah buku pemikiran dan biografi tokoh penting pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah.
Baca juga: Sambut Muktamar ke-35 NU, Undar Jombang Buka Penginapan Gratis untuk Penggembira
Kegiatan bernilai historis tersebut bakal digelar di Kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Sabtu (15/8/2026).
Cucu pendiri NU, KH Solachul Aam Wahib Wahab (Gus Aam), mengonfirmasi bahwa perhelatan ini digelar sebagai momentum strategis untuk menyambut perhelatan Muktamar ke-35 NU sekaligus memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia.
"Tambakberas kan tuan rumah Muktamar ya, jadi kita ingin mendengar langsung pemikiran calon ketua NU ke depan soal Mbah Wahab itu seperti apa," ujar Gus Aam, kepada KLIKJOMBANG.COM Jumat (14/8/2026).
Selain Gus Yahya, pihak panitia penyelenggara mengaku turut mengundang sejumlah figur potensial yang digadang-gadang masuk dalam bursa calon ketua umum PBNU mendatang, termasuk KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.
Namun, hingga menjelang pelaksanaan acara, dari sekian banyak nama tokoh besar yang diundang, baru Gus Yahya yang secara resmi mengonfirmasi kepastian kehadirannya.
"Lainnya belum ada tanggapan," tutur Gus Aam menjelaskan peta kepastian kehadiran para tokoh yang diundang.
Sebagaimana diketahui dalam rekam jejak sejarah, sosok KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab merupakan salah satu ulama paling pivotal dalam proses kelahiran hingga tumbuh berkembangnya Nahdlatul Ulama di Tanah Air.
Mbah Wahab tidak hanya dikenal sebagai salah satu pendiri NU, melainkan juga pelopor penggerak pendidikan pesantren, aktivis pergerakan nasional, politisi ulung, hingga diplomat ulama yang merumuskan konsep keharmonisan Islam dan nasionalisme Indonesia.
Baca juga: Becak Listrik 'Sakti' Siap Manjakan Kiai di Muktamar NU
Lahir di Tambakberas, Jombang, pada 31 Maret 1888 dari pasangan KH Hasbullah Said dan Nyai Latifah, Kiai Wahab tumbuh dan menempa diri dalam tradisi keilmuan lingkungan pesantren yang amat kental.
Perjalanan menuntut ilmunya terbilang sangat panjang, melintasi berbagai pesantren terkemuka seperti Pesantren Langitan, Mojosari, Tawangsari, Kademangan Bangkalan, Branggahan Kediri, hingga Pesantren Tebuireng Jombang.
Dahaga keilmuan tersebut kemudian membawa Mbah Wahab melanjutkan rihlah ilmiah ke Tanah Suci Makkah untuk berguru langsung kepada ulama ternama dunia, seperti Syekh Mahfudz at-Tirmasi dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.
Pengalaman intelektual yang lintas batas itulah yang membentuk karakter Kiai Wahab menjadi ulama paripurna: menguasai fikih dan ushul fikih secara mendalam, sekaligus berwawasan sosial-politik yang luas.
Satu keunikan menonjol yang membedakan Kiai Wahab dari potret ulama konvensional pada zamannya adalah keberaniannya terjun langsung ke dalam panggung politik praktis demi kepentingan umat.
Bagi Mbah Wahab, politik bukanlah arena kekuasaan semata, melainkan instrumen perjuangan untuk membela hak-hak rakyat serta mengawal kedaulatan bangsa menjelang dan pasca-kemerdekaan Indonesia.
Kemampuan diplomasi ulung yang dipadu dengan kedalaman penguasaan hukum Islam menjadikan Kiai Wahab figur jembatan yang sangat efektif dalam menyelaraskan kepentingan agama dengan visi kebangsaan.
Di internal NU sendiri, Kiai Wahab disohor sebagai motor penggerak organisasi atau 'Panglima NU' yang tak segan turun ke lapangan untuk menggalang massa, bernegosiasi, serta membangun jaringan politik nasional.
Jika KH Hasyim Asy'ari dipandang sebagai simbol otoritas keulamaan dan fondasi spiritual, maka KH Wahab Chasbullah adalah arsitek organisatoris yang membuat NU dinamis merespons tantangan zaman hingga wafatnya pada 29 Desember 1971.
Editor : Redaksi