Hotel dan Wisata di Madura

Geliat Hotel Modern di Madura, Akademisi: Karyawan Perlu Kenakan Batik Khas dan Sarung

Reporter : Redaksi

Geliat Hotel Modern di Madura, Akademisi: Karyawan Perlu Kenakan Batik Khas dan Sarung

SURABAYA, KLIKJOMBANG – Perkembangan pariwisata di Pulau Madura dinilai harus berjalan selaras dengan upaya pelestarian budaya lokal. Seiring bertambahnya destinasi wisata dan hotel baru, pengusaha perhotelan diharapkan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga turut menjaga karakter serta tradisi setempat.

Baca juga: SMSI Sumenep Gelar Sekolah Melek Media, Edukasi Guru SDN Kalianget Tangkal Hoaks hingga Oknum Wartawan

Kehadiran sektor perhotelan modern di Madura saat ini menjadi angin segar bagi konektivitas ekonomi daerah. Namun, ekspansi investasi ini menyimpan tantangan tersendiri agar identitas budaya lokal tidak terpinggirkan oleh modernisasi.

Akademisi asal Kabupaten Sumenep yang juga Dosen Pariwisata Universitas Terbuka (UT) Surabaya, Sucipto, menegaskan potensi wisata Madura sangat besar, terutama kawasan pesisir dan kepulauan.

Beberapa destinasi unggulan seperti Pantai 9 hingga Gili Labak di Sumenep terus menyedot perhatian wisatawan nasional. Potensi serupa juga tersebar masif di tiga kabupaten lainnya, yakni Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.

Geliat kunjungan wisatawan tersebut memicu tumbuhnya penginapan modern secara signifikan. Kehadiran fasilitas penyokong ini dinilai menjadi indikator positif bagi pertumbuhan ekonomi Pulau Garam.

Di Sumenep kini berdiri MYZE Hotel, sementara Pamekasan diwarnai hadirnya Azana Style Hotel Madura. Adapun di Bangkalan, operasional Hotel Rose dan jaringan penginapan lain semakin memperkuat infrastruktur pariwisata.

Meski demikian, Sucipto menilai orientasi pembangunan pariwisata Madura tidak boleh berhenti pada pemenuhan fasilitas fisik dan kuantitas angka kunjungan semata.

Ia menekankan pentingnya menjaga identitas kebudayaan Madura yang berkarakter kuat dan religius di tengah arus masuknya wisatawan serta investor luar daerah.

Menurutnya, pengelola dan pemilik hotel memegang peranan strategis untuk mengenalkan tradisi lokal secara langsung melalui operasional harian.

Baca juga: Raja Nusantara Berkumpul di Madura Ethnic Carnival 2026, Haji Her Beri Penyambutan Hangat

Salah satu langkah konkret yang diusulkan adalah penerapan busana adat sebagai pakaian dinas harian karyawan hotel pada hari-hari tertentu.

"Misalnya pada hari tertentu karyawan bisa memakai batik khas Madura, busana Sakera-Marlena, atau kombinasi kopiah dan sarung yang identik dengan ciri masyarakat Madura yang religius," ujar Sucipto kepada KlikJOMBANG.com, Jumat (9/10/2026).

Skema penggunaan pakaian adat tersebut perlu diatur secara berkala dengan melibatkan supervisi dari dinas pariwisata daerah setempat.

"Perlu kehadiran dinas pariwisata untuk mengatur jadwalnya. Dari tujuh hari kerja, ditentukan hari khusus untuk mengenakan pakaian adat setempat," lanjutnya.

Selain melalui tata busana staf, promosi nilai budaya dapat dimanfaatkan lewat sarana visual interaktif di dalam area hotel, seperti tayangan sambutan pada televisi kamar.

Baca juga: PTP Nonpetikemas Dorong Industrialisasi Madura Lewat Sinergi Pendidikan dan Logistik

Penggunaan media sosial dan platform digital hotel juga dinilai efektif untuk meluruskan persepsi publik luar mengenai karakter masyarakat Madura.

Langkah kolaboratif ini diharapkan mampu mengikis stereotip negatif dan menampilkan sisi ramah, santun, serta kearifan lokal Madura kepada setiap tamu yang menginap.

Terkait aspek teknis, penyesuaian Pakaian Dinas Harian (PDH) berunsur lokal seperti baju Sakera maupun sarung dapat dimodifikasi secara modern tanpa mengabaikan standar keselamatan dan kenyamanan pelayanan perhotelan.

"Bisa dimodifikasi, misalnya tetap menggunakan celana panjang yang dipadu balutan sarung setengah badan. Langkah ini agar tetap selaras dengan hospitality standard di lingkungan hotel," pungkas Sucipto.

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru