Kampung Pancasila Menggeliat, Ning Lia Sebut Eri Cahyadi Nyalakan Energi Arek Surabaya
SURABAYA, KlikJOMBANG – Keberadaan Kampung Pancasila di Kota Surabaya kembali menggeliat sebagai ruang konkret untuk membangun budaya gotong royong, kepedulian sosial, toleransi, hingga kemandirian ekonomi warga.
Baca juga: Munaslub AAI Tetapkan Prof Tjandra Sridjaja Jadi Ketua Umum 2026–2031
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya secara resmi meluncurkan Lomba Kampung Pancasila 2026 yang melibatkan sebanyak 1.360 Rukun Warga (RW) di seluruh penjuru Kota Pahlawan.
Dalam gerakan sosial berskala kota ini, Pemkot Surabaya menempatkan nilai gotong royong sebagai ruh utama dengan mendorong warga untuk aktif menyelesaikan berbagai persoalan di lingkungannya masing-masing.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan, agenda tersebut menjadi momentum krusial untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam keseharian masyarakat perkotaan.
“Saya berharap dengan kembali kepada Kampung Pancasila ini, gotong royong, saling tolong menolong, dan saling menjaga dapat terus dilakukan di Kota Surabaya,” ujar Eri Cahyadi usai peluncuran di Balai Kota Surabaya dikutip KlikJOMBANG, Minggu (27/9/2026).
Langkah strategis Pemkot Surabaya tersebut mendapat apresiasi hangat dari Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia.
Saat bertemu dengan Eri Cahyadi di Balai Kota Surabaya, Ning Lia menegaskan bahwa keberlangsungan bangsa sangat bergantung pada sejauh mana nilai-nilai Pancasila diimplementasikan dalam tindakan nyata.
“Kampung Pancasila merupakan bentuk konkret penerapan nilai-nilai tersebut. Saya optimistis Surabaya dapat menjadi contoh nasional dalam menghidupkan Pancasila di tingkat akar rumput,” kata senator asal Surabaya itu.
Menurut Ning Lia, Pancasila tidak boleh sekadar berhenti sebagai materi pendidikan kewarganegaraan atau simbol kenegaraan semata.
Nilai-nilai luhur tersebut harus diterjemahkan menjadi aksi sosial, seperti membantu tetangga, menjaga kelestarian lingkungan, menguatkan toleransi, serta mendorong ekonomi kerakyatan.
Baca juga: AI Visibility, Cara Baru Brand Hadir dalam Pencarian Berbasis AI
Dalam pandangannya, keberlangsungan bangsa tidak hanya ditopang oleh kuatnya institusi negara, tetapi juga oleh solidnya kekuatan masyarakat sipil (civil society).
Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah membutuhkan partisipasi aktif, kepedulian, serta tingkat kepercayaan yang tinggi dari seluruh elemen masyarakat.
Dalam forum kebangsaan bersama pemuda, Ning Lia menekankan pentingnya menempatkan masyarakat sebagai agen utama penjaga keberlangsungan dan keutuhan bangsa.
Ia mengaitkan dinamika ini dengan pemikiran sosiolog klasik Ibnu Khaldun mengenai potensi disintegrasi yang dapat muncul saat hubungan emosional antara masyarakat dan negara memudar.
“Ketika warga terbiasa saling membantu, solidaritas akan tumbuh. Saat masyarakat merasa dilibatkan dan negara hadir melalui kebijakan yang nyata, hubungan keduanya akan semakin kuat,” ujar Ning Lia.
Baca juga: PTP Nonpetikemas Dorong Industrialisasi Madura Lewat Sinergi Pendidikan dan Logistik
Perspektif tersebut sejalan dengan konsistensi Ning Lia dalam mengawal berbagai isu kebangsaan dan pembangunan di Jawa Timur.
Senator yang dikenal anggun dengan busana khas kebaya dan batik ini menekankan tiga pilar utama keberlangsungan bangsa, yakni pendidikan berkualitas, demokrasi yang sehat, dan kesepakatan publik.
Ia mengingatkan bahwa perjuangan kebangsaan tidak hanya berorientasi pada hasil jangka pendek hari ini, melainkan ditujukan untuk keberlanjutan generasi masa depan.
Oleh karena itu, penguatan kepercayaan publik (public trust) terhadap kinerja dan kehadiran pengambil kebijakan menjadi prasyarat mutlak yang harus terus dijaga.
“Benang merahnya adalah hubungan timbal balik. Pemerintah butuh kepercayaan warga, dan warga butuh pemerintah yang bekerja nyata. Kampung Pancasila adalah ruang ideal untuk menjembatani hal tersebut,” pungkasnya.
Editor : Redaksi