Maju Calon Ketua PMII Surabaya, Nizar Luthfi Usung Visi 'Tumbuh Serentak'
SURABAYA — Konferensi Cabang (Konfercab) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Surabaya tahun 2026 yang dijadwalkan berlangsung awal Oktober mendatang mulai menghangat.
Bursa calon ketua cabang ini resmi diramaikan oleh hadirnya Nizar Luthfi Jauhari yang mengusung gagasan transformatif untuk arah gerak organisasi ke depan.
Kader muda yang merupakan mahasiswa Ilmu Politik Universitas Airlangga ini resmi mendaftarkan diri dengan membawa visi besar bertajuk "Tumbuh Serentak".
Gagasan ini berakar pada kaidah klasik Al-muhafadhotu 'ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yakni memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.
Melalui visi tersebut, Nizar bertekad menjadikan PMII Surabaya sebagai mercusuar pergerakan yang adaptif dan merangkul seluruh potensi.
Tak hanya itu, organisasi juga didorong menjadi jaring pengaman sosial sekaligus inkubator karir bagi masa depan para kader.
Nizar menjelaskan bahwa gagasan "Tumbuh Serentak" lahir dari kegelisahannya melihat potensi kader PMII di Kota Pahlawan yang belum tergarap secara maksimal.
Menurut Nizar, PMII Surabaya sebenarnya memiliki kekayaan intelektual serta jaringan alumni dan eksternal yang sangat luar biasa.
Namun, potensi besar tersebut sering kali hanya terpusat pada satu atau dua disiplin ilmu atau bidang tertentu saja.
"Saya ingin memastikan tidak ada kader yang merasa kecil hanya karena latar belakang pendidikannya berbeda. Semua harus punya ruang untuk tumbuh," kata Nizar dalam keterangannya, kepada Klikjombang.com, Kamis (24/9/2026).
Untuk mewujudkan hal itu, Nizar merumuskan Grand Design "Tumbuh Serentak" yang bertumpu pada tiga pilar utama.
Pilar pertama adalah inklusivitas disiplin ilmu, yakni membuka ruang kolaborasi lintas fakultas mulai dari sains, teknologi, seni, hingga kesehatan.
Pilar kedua fokus pada penguatan inkubator karir melalui program mentoring, pelatihan keterampilan praktis, dan penguatan jejaring alumni pasca-kampus.
Sementara pilar ketiga menitikberatkan pada penguatan tradisi intelektual melalui pemikiran kritis berbasis nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
Nizar menegaskan bahwa kaidah organisasi yang ia usung bukan sekadar jargon politik elektoral biasa.
Ia mencontohkan, tradisi diskusi, dialektika, dan pola pengkaderan dasar ala PMII yang sudah terbukti solid akan tetap dipertahankan.
Meski begitu, metode, instrumen, dan pendekatan gerakan akan diperbarui secara masif agar relevan dengan tantangan zaman.
"Kita sebagai kader PMII Surabaya harus terus bergerak tumbuh bersama. Tidak boleh terjebak romantisme masa lalu, tapi juga tidak boleh tercerabut dari akar tradisi. Inilah makna tumbuh serentak," tegasnya.
Lewat pencalonan ini, Nizar berharap momentum Konfercab PMII Surabaya tidak terjebak menjadi ajang perebutan kekuasaan pragmatis semata.
Ia mendorong seluruh kader dan pimpinan komisariat untuk menjadikan konstelasi ini sebagai ruang adu gagasan yang sehat dan mencerdaskan.
Nizar pun mengajak seluruh elemen kader untuk bersama-sama membangun PMII Surabaya yang lebih inklusif, adaptif, serta memberikan dampak nyata.
"Mari tumbuh serentak, karena tidak ada usaha yang mudah tanpa adanya kesadaran saling menumbuhkan. Pemimpin yang baik adalah yang bisa mencetak pemimpin selanjutnya yang lebih baik," pungkasnya.
Editor : Redaksi